Memohon Ampun Ketika Melakukan Dosa 1
Allah Swt berfirman:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِینَ یَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ یَتُوبُونَ مِنْ قَرِیبٍ فَأُولٰئِکَ یَتُوبُ اللَّهُ عَلَیْهِمْ وَکَانَ اللَّهُ عَلِیمًا حَکِیمًا»
“Sesungguhnya tobat itu diterima Allah hanyalah dari orang-orang yang berbuat kejahatan karena kejahilan, kemudian mereka segera bertobat. Maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 17)
Allah juga berfirman:
وَالَّذِینَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَکَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ یَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ یُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ یَعْلَمُونَ»
“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka — dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? — serta mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)
Ayat di atas menunjukkan salah satu sifat orang-orang bertakwa: apabila mereka terjatuh dalam dosa, mereka segera mengingat Allah, menyesal, dan bertobat. Mereka tidak bersikeras dalam perbuatan dosa dan tidak mengulanginya dengan sadar.
Dalam Tafsir al-Mizan dan Tafsir Nemuneh dijelaskan bahwa: Dari redaksi ayat ini dapat dipahami bahwa seseorang tidak akan melakukan dosa selama ia mengingat Allah.
Manusia hanya terjatuh dalam dosa ketika ia lupa kepada Allah dan hatinya dikuasai oleh kelalaian.
Namun kelalaian ini tidak berlangsung lama pada diri orang-orang bertakwa; mereka segera teringat kepada Allah dan berupaya menebus kesalahan mereka.

