Tentang Ihsan 1
Konsep ihsan merupakan salah satu dimensi tertinggi dalam ajaran Islam. Dalam pemahaman umum, ihsan diartikan sebagai melakukan perbuatan baik atau berbuat baik kepada sesama. Kedua pengertian ini memang benar, namun keduanya belum menyentuh inti terdalam dari makna ihsan sebagaimana dijelaskan langsung oleh Rasulullah saw. Dalam sabda beliau, ihsan bukan sekadar tindakan moral, melainkan kesadaran spiritual yang melampaui batas tindakan lahiriah.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda;
أن تَعبُدَ اللّهَ كَأنَّكَ تَراهُ، فإن لَم تَكُن تَراهُ فإنَّهُ یراكَ
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ṣhaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Īmān, Bāb Su’āl Jibrīl ‘an al-Īmān wa al-Islām wa al-Iḥsān, hadis no. 50)
Hadis yang sama diriwayatkan dari Imam Ja‘far Shadiq as:
عَن أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (ع) قَالَ: الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ كُنْتَ لا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، وَالإِحْسَانُ النَّاسَ أَنْ تُحِبَّ لَهُمْ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ.
Dari Imam Ja‘far al-Ṣhadiq as, beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Dan ihsan terhadap manusia ialah engkau mencintai bagi mereka apa yang engkau cintai bagi dirimu, dan engkau membenci bagi mereka apa yang engkau benci bagi dirimu.” (Al-Kulainī, al-Kāfī, jld. 2, hlm. 99, Bāb al-Iḥsān, ḥadīth no. 3)

