99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) a
يَا كُمَيْلُ، حُسْنُ خُلُقِ الْمُؤْمِنِ التَّوَاضُعُ، وَجَمَالُهُ التَّعَفُّفُ، وَشَرَفُهُ التَفَقُّةُ، وَعِزُّهُ تَرْكُ الْقِيلِ وَالْقَالِ.
Wahai Kumail, keindahan akhlak seorang mukmin adalah kerendahan hatinya, keelokannya adalah menampakkan sifat ‘Iffah, kemuliaannya adalah mendalami ilmu agama, dan kehormatannya adalah meninggalkan perbincangan sia-sia.
Dalam wasiat ini, ditekankan empat perkara penting dalam etika pergaulan dan bermasyarakat:
Pertama, Sifat/sikap Tawâdhu’, rendah hati, dan jauh dari sikap congkak dan menyombongkan diri.
Tawâdhu’ adalah sifat/sikap perilaku yang terpuji. Allah memujinya. Demikian pula dengan para nabi as. Para Imam Suci Ahlulbait as. juga menekankan keutamaan akhlak dan perilaku mulia ini.
Sesungguhnya tawaduk (kerendahan hati) adalah salah satu sifat mulia yang mencerminkan kejernihan dan kesucian jiwa. Sikap ini juga mengandung ajakan untuk saling mencintai dan berkasih sayang di antara sesama.
Tawâdhu’ kepada Allah pun termasuk nilai luhur yang apabila dijaga oleh seorang hamba, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah Yang Maha tinggi dan Maha agung, sebagaimana sabda Nabi saw.
Seseorang yang menyandang sifat Tawâdhu tidak akan memaksa minta diistimewakan dalam duduk di sebuah majelis. Ia akan menyapa dan mengucapkan salam terlebih dahulu kepada orang lain, dan ia siap mengalah dalam percek-cokan, walaupun ia di posisi yang benar, dan ia tidak gila pujian.
Sebagaimana ia selalu menakar orang lain dengan dirinya. Apa-apa yang kira-kira tidak ia sukai untuk dirinya apabila orang melakukan terhadap dirinya, ia tidak akan lakukan terhadap orang lain.
Dalam sebuah hadis, diriwayatkan Nabi saw. bersabda:
إنّ التَّواضُعَ يَزيدُ صاحِبَهُ رِفعَةً ، فتَواضَعُوا يَرفَعْكُمُ اللَّهُ .
“Sesungguhnya tawaduk (kerendahan hati) menambah kemuliaan bagi pelakunya. Maka rendahkanlah dirimu (dengan tulus), niscaya Allah akan meninggikan derajatmu.”

