Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Massa (Awamm), Tipologi yang Melampaui Kelas, dan Basirah
Mengapa perilaku elite begitu menentukan? Karena massa mengikuti mereka.
“Massa selalu mengikuti dan meniru elite. Karena itu, kesalahan terburuk seorang tokoh terkenal adalah menyimpang, sebab penyimpangannya mengakibatkan penyimpangan banyak orang.”⁵⁵
Dari sini Khamenei membangun tipologi inti bukunya. Setiap masyarakat terbagi dua.
“Orang akan terbagi menjadi dua kategori. Kategori pertama bertindak berdasarkan pemikiran, pemahaman, kesadaran, dan tekad; inilah elite. Kategori lainnya tidak berhenti (untuk berfikir, memahami, dengan sadar dan bertekad ,- (penjelasan penulis artikel ini)) untuk menentukan jalan yang benar; inilah massa.”⁵⁶
Tipologi ini penting karena bukan tipologi kelas. Elite dan massa bukan ditentukan gelar atau kekayaan, melainkan oleh kesadaran. Sebuah contoh kontemporer ia berikan.
“Seorang sopir truk justru termasuk golongan elite, sementara ulama terhormat dan imam salat itu termasuk golongan massa. Meski hanya seorang sopir, ia mengetahui hakikat berbagai hal, sedangkan sang ulama justru lengah.”⁵⁷
Elite sendiri terbagi dua: elite kebenaran dan elite kebatilan.
“Elite terbagi menjadi dua kelompok: elite kebenaran dan elite kebatilan. Apa yang dapat diharapkan dari elite yang membela kebatilan? Hanya persekongkolan melawan kebenaran dan rakyat.”⁵⁸
Karena tipologi ini soal kesadaran, maka tanggung jawab bersifat universal. Setiap orang diminta menilai dirinya. “Waspadalah menjadi bagian dari massa. Setiap perbuatan yang kita lakukan harus lahir dari basirah. Jika Anda bertindak tanpa basirah, Anda termasuk golongan massa.”⁵⁹ Faktor pembeda terakhir adalah basirah. Inilah konsep yang menghubungkan Bab 3 dan Bab 4.
“Basirah, yaitu pandangan batin, adalah hal terpenting saat membela agama. Mereka yang tidak memiliki basirah cepat tertipu dan terpikat ke pihak kebatilan tanpa menyadarinya.”⁶⁰
Tanpa basirah, kesalehan tidak menjamin kebenaran. Pendukung Ibnu Ziyad pun banyak yang saleh.
“Sebagian orang yang mendukung Ibnu Ziyad bukanlah orang fasik, bukan pula orang yang tidak bermoral; mereka hanya kehilangan basirah.”⁶¹
Maka kekosongan basirah inilah yang membuat massa percaya pada kebohongan terbesar.
“Mereka menyebarkan gagasan bahwa cucu Nabi telah memberontak terhadap imam yang adil. Imam yang adil itu tak lain adalah Yazid bin Mu’awiyah, dan orang-orang pun memercayai mereka!”⁶²
Kesalahan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan, menurut Khamenei, tidak terampuni.
“Sebagian orang dianggap suci, saleh, dan zuhud, tetapi mereka mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Sebagian kesalahan tidak dapat diampuni, dan salah satunya adalah mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.”⁶³

