Ketika Kematian Tidak Lagi Menakutkan
Di bagian berikutnya, penulis skripsi mulai memperlihatkan perbedaan yang lebih halus antara KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat. Keduanya sama-sama berbicara tentang kematian, tetapi titik berangkat keduanya tidak sama.
Komaruddin Hidayat banyak mengajak pembaca merenungkan kematian melalui pengalaman manusia sehari-hari. Ia berbicara tentang kehilangan, kecemasan, pencarian makna, dan bagaimana manusia berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memiliki batas. Pendekatannya sangat psikologis. Kematian dipahami sebagai momentum untuk menata ulang cara hidup.
Kang Jalal tidak menolak pendekatan itu, tetapi beliau bergerak lebih dalam. Baginya, pembicaraan tentang kematian tidak bisa dilepaskan dari perjalanan ruh. Manusia bukan hanya makhluk biologis yang suatu hari berhenti bernapas, melainkan makhluk spiritual yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah. Karena itu, kematian tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkaitan dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.
Pandangan inilah yang membuat bahasa Kang Jalal terasa berbeda. Ketika orang lain berbicara tentang kematian sebagai akhir, beliau justru mengajak melihatnya sebagai proses perpindahan. Ketika banyak orang sibuk bertanya bagaimana cara menghindari kematian, beliau mengajak bertanya, “Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya?”
Perbedaan itu sesungguhnya berakar pada cara masing-masing memahami manusia. Dalam perspektif Kang Jalal, manusia bukan sekadar makhluk yang memiliki tubuh, melainkan ruh yang sedang mengenakan tubuh. Tubuh memang akan kembali menjadi tanah, tetapi ruh tetap melanjutkan perjalanannya. Karena itu, yang paling penting bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan bagaimana ia membersihkan jiwanya selama hidup.
Penulis skripsi melihat bahwa cara berpikir seperti ini sangat dipengaruhi oleh tradisi tasawuf yang menjadi salah satu warna kuat dalam pemikiran Kang Jalal. Tasawuf (jalan penyucian hati untuk mendekat kepada Allah) memandang kehidupan dunia sebagai fase pendidikan ruh. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat manusia belajar mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Maka kematian bukan kegagalan hidup, tetapi gerbang menuju tahap berikutnya dalam perjalanan seorang mukmin.
Di sinilah letak keunikan Kang Jalal. Beliau tidak mengajak orang mencintai kematian secara berlebihan, apalagi mengabaikan kehidupan dunia. Sebaliknya, beliau justru mendorong manusia untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya karena setiap amal, setiap niat, dan setiap akhlak akan menjadi bekal ketika memasuki alam berikutnya.
Dengan kata lain, pembicaraan tentang kematian dalam pemikiran Kang Jalal sesungguhnya adalah pembicaraan tentang kualitas hidup. Orang yang benar-benar memahami kematian akan lebih menghargai waktu, lebih mudah memaafkan, lebih ringan membantu sesama, dan tidak mudah diperbudak oleh ambisi dunia. Kesadaran akan kematian bukan membuat seseorang pasif, melainkan membuatnya hidup dengan kesadaran yang lebih tinggi.
Itulah salah satu temuan penting yang berhasil ditangkap oleh Sal Sabillah Nikmatus Solikah. Melalui penelitian komparatif ini, ia menunjukkan bahwa di balik tema yang sama, Kang Jalal menghadirkan perspektif yang lebih spiritual. Kematian bukan sekadar fakta biologis atau persoalan psikologis, melainkan bagian dari pendidikan jiwa menuju perjumpaan dengan Allah.

