Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kematian yang Melahirkan Harapan

0 Pendapat 00.0 / 5

Di bagian akhir penelitiannya, Sal Sabillah Nikmatus Solikah sampai pada sebuah kesimpulan yang menarik. Meskipun KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat sama-sama berbicara tentang kematian dengan bahasa yang menenangkan, keduanya berangkat dari fondasi yang berbeda. Perbedaan itulah yang justru memperkaya cara umat Islam memahami salah satu kepastian terbesar dalam hidup manusia.

Dalam pembacaan penulis, Komaruddin Hidayat lebih banyak mengajak manusia menerima kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan. Kematian dipahami sebagai guru yang mengingatkan manusia untuk hidup lebih bermakna, lebih damai, dan lebih siap menghadapi keterbatasan dirinya.

Sementara itu, Kang Jalal membawa pembaca melangkah lebih jauh. Beliau tidak berhenti pada ajakan untuk menerima kematian. Beliau mengajak manusia melihat kematian melalui lensa tauhid. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Karena itu, kematian bukan sekadar perpindahan dari satu keadaan menuju keadaan lain, tetapi perjalanan pulang menuju asal kehidupan.

Cara pandang seperti ini membuat pembahasan Kang Jalal terasa sangat menenteramkan. Tidak ada kesan bahwa kematian adalah hukuman yang harus ditakuti. Yang perlu ditakuti justru adalah ketika manusia menjalani hidup tanpa arah, tanpa penyucian hati, dan tanpa memperbaiki hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Itulah sebabnya hampir setiap pembahasan Kang Jalal mengenai kematian selalu berujung pada kehidupan. Beliau tidak sibuk menggambarkan bagaimana seseorang meninggal, melainkan bagaimana seseorang seharusnya hidup sebelum kematian datang menjemputnya. Ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata panjangnya usia, banyaknya harta, atau tingginya jabatan, tetapi sejauh mana hati menjadi lebih bersih, akhlak menjadi lebih lembut, dan amal menjadi lebih ikhlas.

Di sinilah penulis skripsi melihat kekuatan pemikiran Kang Jalal. Perspektif tasawuf yang beliau gunakan tidak membuat seseorang menjauh dari realitas sosial. Sebaliknya, kesadaran bahwa hidup ini sementara justru melahirkan tanggung jawab moral yang lebih besar. Orang yang sadar akan kepastian kematian akan lebih berhati-hati menggunakan kekuasaan, lebih jujur dalam bekerja, lebih ringan berbagi, dan lebih mudah memaafkan. Kesadaran spiritual diterjemahkan menjadi akhlak sosial.

Pesan seperti ini terasa sangat relevan di tengah kehidupan modern. Manusia hari ini begitu sibuk mengejar pencapaian hingga sering lupa bahwa setiap hari sebenarnya adalah perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah. Kesibukan membuat manusia lupa berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang sedang saya bawa menuju kehidupan berikutnya?

Melalui skripsinya, Sal Sabillah Nikmatus Solikah berhasil memperlihatkan bahwa membaca karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat bukan sekadar mempelajari gagasan tentang kematian. Yang dipelajari sesungguhnya adalah seni menjalani kehidupan dengan kesadaran spiritual yang utuh. Kematian tidak lagi diposisikan sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai pengingat agar setiap hari diisi dengan amal yang lebih baik daripada hari sebelumnya.

Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran paling berharga dari pemikiran Kang Jalal. Kita tidak pernah mengetahui kapan kematian datang. Yang dapat kita tentukan hanyalah bagaimana kita menjalani hidup sebelum saat itu tiba. Maka, mengingat kematian bukan berarti mengurangi cinta kepada kehidupan. Justru karena kehidupan begitu singkat, setiap detiknya menjadi sangat berharga untuk diisi dengan ilmu, cinta, pengabdian, dan akhlak yang baik.

Itulah sebabnya, dalam perspektif Kang Jalal sebagaimana dibaca melalui skripsi ini, kematian bukan akhir dari harapan. Ia adalah awal dari perjumpaan dengan Tuhan yang selama hidup selalu dipanggil dalam doa, dicari dalam ibadah, dan dirindukan dengan hati yang terus berusaha disucikan.