Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Jalan Pulang Agama 1

0 Pendapat 00.0 / 5

Sejak awal peradaban, manusia tidak pernah berhenti mencari makna keberadaannya. Manusia menatap langit dan bertanya dari mana alam semesta berasal. Manusia mengamati keteraturan kosmos, lalu berusaha memahami kekuatan yang menggerakkannya. Pada saat yang sama, manusia juga menoleh ke dalam dirinya sendiri, mencoba menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yaitu siapakah manusia? untuk apa diciptakan,? dan bagaimana seharusnya kehidupan dijalani?

Di antara sekian banyak pencarian tersebut, terdapat satu persoalan yang senantiasa hadir melintasi ruang dan waktu, yakni moralitas. Pertanyaan mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, mengapa manusia harus berlaku adil, mengapa kebajikan harus dipertahankan, serta dari mana nilai-nilai moral memperoleh legitimasi, telah menjadi perdebatan yang menghubungkan agama, filsafat, hukum, hingga seluruh bangunan peradaban manusia.

Sejarah para nabi pada hakikatnya adalah sejarah perjuangan membela martabat manusia. Apabila seluruh perjalanan kenabian dibaca sebagai satu kesatuan, tampak bahwa wahyu tidak pernah turun untuk membatasi kemanusiaan, melainkan untuk mengangkatnya. Setiap syariat lahir dalam konteks sejarah tertentu, tetapi seluruh syariat mengarah kepada tujuan yang sama, yaitu menjaga kehormatan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Setiap nabi hadir pada ruang dan waktu yang berbeda, menghadapi bentuk penindasan yang berbeda, namun membawa tujuan yang sama, yaitu mengembalikan manusia kepada kemuliaan fitrahnya.

Nabi Musa as hadir ketika manusia hidup di bawah kekuasaan yang menempatkan sebagian manusia sebagai tuan dan sebagian lainnya sebagai budak. Fir’aun tidak hanya menguasai Mesir melalui kekuatan militer, tetapi juga membangun sebuah tatanan yang menjadikan manusia kehilangan kebebasan, kehormatan, dan hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam konteks tersebut, risalah Nabi Musa as bukan sekadar seruan agar Bani Israil keluar dari Mesir, melainkan sebuah gerakan pembebasan yang mengembalikan kedudukan manusia sebagai makhluk yang hanya tunduk kepada Tuhan. Tauhid menjadi fondasi pembebasan karena tidak ada kekuasaan yang layak dipertuhankan selain Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, perjuangan Nabi Musa as merupakan perjuangan melawan segala bentuk tirani yang merendahkan martabat manusia.