Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

AL GHADIR BELUM BERAKHIR 1

0 Pendapat 00.0 / 5

Dari Arafah Menuju Peradaban, Dari Khum Menuju Masa Depan 
Tidak semua peristiwa besar lahir di medan perang. 
Tidak semua perubahan sejarah dimulai oleh suara pedang. 
Sebagian lahir dari sebuah pesan. 
Sebuah amanah. 
Sebuah kalimat yang diucapkan pada saat yang tepat, kepada manusia yang tepat, untuk masa depan yang bahkan belum lahir. 
Empat belas abad yang lalu, Rasulullah Muhammad SAWA memimpin seratus ribu lebih kaum Muslimin menuju tanah suci. 
Itulah tahun ke-10 Hijriah. 
Tahun yang kemudian dikenal sebagai Hajjatul Wada’. 
Haji Perpisahan. 
Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang ada dalam hati Rasulullah saat itu. 
Namun banyak sahabat merasakan bahwa mereka sedang menyertai Nabi dalam salah satu perjalanan terakhirnya. 
Islam telah sempurna. 
Makkah telah kembali menjadi kota tauhid. 
Berhala-berhala telah runtuh. 
Jazirah Arab telah berubah. 
Tetapi sebuah pertanyaan besar mulai berhembus bersama angin padang pasir: 
Apa yang akan terjadi setelah Rasulullah tiada? 
Siapa yang akan menjaga Al-Qur’an? 
Siapa yang akan menjaga keadilan? 
Siapa yang akan menjaga arah perjalanan umat? 
Jawaban atas pertanyaan itu tidak turun sekaligus. 
Ia hadir dalam dua peristiwa yang saling melengkapi.