Arafah dan Ghadir
Di Arafah, Rasulullah berbicara tentang kemanusiaan.
Tentang kehormatan darah dan harta.
Tentang hak-hak perempuan.
Tentang persaudaraan.
Tentang amanah.
Tentang keadilan.
Tentang nilai-nilai yang harus menjadi fondasi sebuah peradaban.
Arafah menjelaskan apa yang harus dijaga.
Namun sejarah belum selesai.
Karena beberapa hari kemudian, di sebuah persimpangan bernama Khum, Rasulullah menjelaskan siapa yang akan menjaga.
Di tengah panas Dzulhijjah yang membakar.
Di sebuah oasis yang menjadi titik perpisahan jalan-jalan besar Jazirah Arab.
Di tempat ribuan jamaah akan berpisah menuju kampung halaman masing-masing.
Rasulullah memerintahkan seluruh kafilah berhenti.
Yang sudah berjalan jauh dipanggil kembali.
Yang tertinggal diperintahkan menyusul.
Semua harus hadir.
Semua harus mendengar.
Semua harus menjadi saksi.
Seakan langit sendiri sedang berkata:
“Jangan ada yang pergi sebelum amanah ini disampaikan.”
Pelana-pelana unta ditumpuk menjadi mimbar.
Ribuan manusia berkumpul di bawah matahari yang menyengat.
Dan di atas mimbar sederhana itu Rasulullah berdiri.
Beliau memandang umat yang dicintainya.
Umat yang sebentar lagi akan beliau tinggalkan.
Lalu beliau bertanya:
“Bukankah aku lebih berhak atas kalian daripada diri kalian sendiri?”
Mereka menjawab:
“Benar, wahai Rasulullah.”
Maka Rasulullah menggenggam tangan Ali bin Abi Thalib.
Mengangkatnya tinggi.

