Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Nabi dan Kesadaran Ketuhanan 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya menyadari adanya Tuhan, melainkan juga menyadari dirinya sebagai wujud yang bergantung secara mutlak kepada-Nya. Dengan kata lain, relasi manusia dengan Tuhan bukan sekadar relasi etis atau normatif, melainkan relasi ontologis: manusia ada karena Tuhan. 

Mulla Ṣadra, filsuf besar Islam, menekankan bahwa seluruh wujud di alam semesta ini bersifat eksistensi-relasional. Artinya, realitas apa pun selain Tuhan tidak memiliki keberadaan independen, melainkan hadir sebagai relasi murni kepada Wujud Mutlak. Segala yang ada di alam hanyalah pancaran (tajalli) dari eksistensi Tuhan yang absolut. 

Dalam kerangka ini, ungkapan “antum al-fuqara ila Allah” dipahami bukan sekadar secara moral, melainkan ontologis: kemiskinan manusia terhadap Tuhan bukanlah kondisi tambahan, melainkan esensi atau hakikat keberadaannya. Manusia adalah faqir karena wujudnya sendiri tiada arti tanpa kontinuitas emanasi dari Tuhan. 

Meskipun relasi ontologis ini melekat pada diri manusia, akal manusia sering gagal menangkapnya secara murni. Nafsu, tradisi, kekuasan, kekayaan, dan tafsir subjektif dapat mendistorsi fitrah dan menjerumuskan manusia dalam bentuk penyembahan palsu atau penolakan terhadap Tuhan.