Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Nabi dan Kesadaran Ketuhanan 3

0 Pendapat 00.0 / 5

Oleh karena itu, Nabi diutus untuk membangunkan kesadaran manusia, menyelaraskan fitrah dengan hukum Ilahi, serta mengajarkan bagaimana eksistensi-relasional itu diwujudkan dalam kehidupan nyata: melalui ibadah, akhlak, dan pengabdian. 

Kesadaran akan adanya Tuhan tidak serta merta memberi manusia petunjuk praktis tentang bagaimana cara hidup yang benar. Nabi hadir sebagai penafsir kehendak Ilahi melalui wahyu. Dengan wahyu, Nabi mengajarkan bahwa keberadaan manusia sebagai “faqir” terhadap Tuhan menemukan maknanya hanya jika diarahkan kepada ibadah dan ketaatan. 

Selain itu, Nabi adalah cermin akhlak Ilahi. Hadis menegaskan: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Dalam perspektif Sadrian, Nabi adalah manifestasi tertinggi dari wujud kontingen yang sepenuhnya terhubung dengan Wujud Mutlak, sehingga menjadi refleksi paling sempurna dari wajah Tuhan dalam semua aspek kehidupan manusia. 

Walhasil, ayat “ke mana pun engkau menghadap, di sana wajah Allah” menegaskan universalitas kehadiran Tuhan. Ayat “antum al-fuqara ila Allah” memperdalam makna itu dengan menegaskan bahwa manusia tidak hanya menyadari Tuhan, tetapi juga menyadari bahwa keberadaannya bersifat relasional dan bergantung mutlak pada Tuhan. 

Konsep eksistensi-relasional Mulla Ṣadra semakin menegaskan bahwa realitas apa pun selain Tuhan hanyalah pancaran,  emanasi, manifestasi, dan tajalli, bukan entitas independen. Dengan kesadaran inilah, peran Nabi menjadi jelas: Nabi hadir untuk menghidupkan fitrah, meluruskan distorsi, serta membimbing manusia agar eksistensi-relasionalnya terwujud dalam bentuk ketaatan, ibadah, dan akhlak. Dengan demikian, pengutusan Nabi adalah jaminan agar kesadaran ketuhanan tidak berhenti pada abstraksi dan konsep semata, tetapi terwujud dalam kehidupan yang konkret dan bermakna