Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Taswīl: Mekanisme Penipuan Batin dalam Diri Manusia 1

0 Pendapat 00.0 / 5

Dalam ayat-ayat ini, taswīl menggambarkan sebuah proses psikologis: keburukan tidak langsung disadari sebagai keburukan, karena jiwa sendiri telah menghiasinya. Maka dosa yang dilakukan tidak tampak menjijikkan, melainkan terlihat sebagai sesuatu yang “benar” atau bahkan “bernilai moral.” 

Menurut penjelasan para arif dan ulama akhlak, taswīl terjadi dalam tiga tahap: 

1. Pengetahuan diri – jiwa mengetahui kecenderungan dan keinginannya; 

2. Penanaman keburukan – keburukan disimpan di dalam batin dengan alasan yang tampak rasional; 

3. Penghiasan keburukan – perbuatan jahat dibungkus dengan nilai-nilai kebaikan seperti ibadah, pelayanan sosial, atau kepentingan agama. 

Alhasil, seseorang bisa saja melakukan tindakan zalim, namun meyakini dirinya sedang menegakkan keadilan. Ia bisa menzalimi atas nama agama, atau menipu atas nama maslahat. 

Fenomena inilah yang dijelaskan dalam ayat lain: 

زُيِّنَ لَهُمُ السُّوءُ مِنْ أَعْمَالِهِمْ فَرَآهُ حَسَنًا 

“Perbuatan buruk mereka dihias indah bagi mereka, lalu mereka memandangnya sebagai perbuatan baik.” (QS. Fāṭir [35]: 8) 

Ayat ini memperluas makna taswīl dari sekadar penipuan diri menuju deformasi moral — saat kebenaran dan keburukan bertukar tempat di dalam persepsi manusia.