Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Hierarki Wujud: Tasykik al-Wujud dan Pancaran Cahaya Pertama 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Di sinilah peran penting al-Haqiqah al-Muhammadiyyah sebagai Barzakh (alam perantara/pembatas sekaligus penyambung). Dalam pandangan kosmologi sufi dan filsafat Sadrian, Nur Muhammad berfungsi sebagai tawassut (perintaraan) yang menghubungkan alam akal/spiritual dengan alam fisik. Nur Muhammad memiliki dua sisi hubungan: sisi pertama menghadap kepada Sang Pencipta untuk menerima limpahan wujud dan rahasia Ilahi, sementara sisi kedua menghadap kepada makhluk untuk menyalurkan rahmat dan pencerahan sesuai dengan tingkat kapasitas masing-masing entitas. Tanpa adanya jembatan ini, hubungan antara Yang Terbatas dan Yang Absolut secara ontologis tidak akan terjalin.

Dengan kata lain Tawasul merupakan keniscayaan ontologis (Dharurah Ontologis).  Berdasarkan tatanan hirarki wujud tersebut, tawasul bertransformasi dari sekadar pilihan keagamaan menjadi sebuah hukum alamiah dalam tatanan spiritual. Tawasul kepada Nabi Muhammad SAW adalah pengakuan rasional dan objektif atas keterbatasan wujud manusia di hadapan Realitas Mutlak.

Sebagaimana hukum sebab-akibat di alam fisik di mana akibat yang lemah senantiasa memerlukan sebab yang lebih tinggi untuk mewujud demikian pula perjalanan spiritual jiwa manusia menuju Tuhan memerlukan perantara wujud yang telah mencapai kesempurnaan (Insan Kamil). Tawasul bukanlah bentuk menyekutukan Tuhan atau mengerdilkan peran Sang Pencipta. Sebaliknya, tawasul adalah bentuk ketaatan pada sunnatullah kosmologis: bahwa untuk menggapai Yang Maha Tinggi, seseorang harus meniti saluran dan pintu (Wasithah al-Fayd) yang telah ditetapkan-Nya. Menolak tawasul dalam kerangka ini ibarat mencoba mengalirkan arus listrik bertegangan jutaan volt langsung ke alat elektronik rumah tangga tanpa transmisi transformer; akibatnya bukanlah pencerahan, melainkan kehancuran eksistensial.