Malam Asyura: Deklarasi Kemerdekaan Manusia
Ustadz Zahir mengajak hadirin memperhatikan satu peristiwa yang menurutnya merupakan pelajaran paling berharga dari seluruh rangkaian tragedi Karbala, yakni malam Asyura.
Sepanjang perjalanan dari Madinah menuju Makkah hingga akhirnya tiba di Karbala, Imam Husain mengajak kaum Muslimin bergabung bersama rombongannya. Akan tetapi, ketika peperangan tinggal menunggu waktu, beliau justru melakukan sesuatu yang tidak lazim.
Beliau mempersilakan seluruh sahabat dan anggota keluarganya meninggalkan perkemahan. Tidak ada ancaman. Tidak ada tekanan. Tidak ada tuntutan agar mereka tetap bertahan.
Bahkan, menurut berbagai riwayat, Imam Husain memadamkan lampu-lampu di perkemahan agar siapa pun yang hendak pergi dapat meninggalkan tempat itu tanpa merasa sungkan. “Bukankah ini sesuatu yang luar biasa?” ujar Ustadz Zahir.
Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan bahwa Imam Husain tidak menghendaki pengikut yang bertahan karena rasa malu, loyalitas buta, ataupun tekanan pemimpin. Beliau menghendaki manusia-manusia yang memilih jalan perjuangan dengan kesadaran penuh. “Al-Husain hendak memastikan bahwa para pembelanya membela beliau bukan karena alasan apa pun selain karena mereka adalah manusia-manusia merdeka yang bermartabat, yang mengambil keputusan dari dirinya sendiri.”
Menurut Ustadz Zahir, letak pelajaran terbesar dari malam Asyura. Bahkan ketika seseorang berada di jalan yang benar, bahkan ketika ia membela Imam Husain sekalipun, keputusan itu harus lahir dari kebebasan berpikir, kebebasan bersikap, dan kebebasan bertindak.
“Al-Husain hendak menyampaikan kepada umat manusia bahwa kemerdekaan adalah segala-galanya.”
“Martabat yang berdiri di atas kemerdekaan, ketika manusia memutuskan sendiri jalan hidupnya, itulah yang harus dijaga.”
Malam Asyura akhirnya bukan hanya dikenang sebagai malam terakhir sebelum peperangan. Di tangan Imam Husain, malam itu menjelma menjadi deklarasi tentang kebebasan manusia. Tidak ada kemuliaan tanpa kemerdekaan, dan tidak ada kemerdekaan tanpa keberanian mempertahankan martabat.

