Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Dari Individu ke Bangsa: Martabat Kolektif

0 Pendapat 00.0 / 5

Pelajaran yang dipetik dari malam Asyura tidak berhenti pada kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidupnya. Dari situ Ustadz Zahir memperluas cakrawala pembahasannya. Jika kemerdekaan menjadi syarat tegaknya martabat seorang manusia, apakah prinsip yang sama juga berlaku bagi kehidupan sebuah bangsa?

Pertanyaan itu dijawabnya dengan mengajak hadirin kembali kepada fitrah manusia. Menurutnya, setiap insan sejak awal diciptakan dengan kecenderungan untuk mencintai kemuliaan. Kehormatan bukanlah sesuatu yang dipelajari kemudian, melainkan dorongan yang telah ditanamkan Allah dalam diri setiap manusia.

“Manusia bukan hanya makhluk yang dimuliakan oleh Tuhannya,” ujarnya, “tetapi juga diberi kecenderungan untuk meraih kemuliaan dan kehormatan.”

Dorongan itu, lanjutnya, dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Ada yang mengejar kemuliaan melalui ilmu pengetahuan, pengabdian, dan amal kebajikan. Namun tidak sedikit pula yang mencarinya melalui jabatan, pangkat, kekayaan, atau banyaknya pengikut. Jalan yang ditempuh boleh berbeda, tetapi tujuan yang hendak dicapai tetap sama, yakni memperoleh penghormatan dan martabat.

Bagi Ustadz Zahir, hukum yang berlaku pada individu juga berlaku pada sebuah bangsa. Bangsa bukan sekadar kumpulan manusia yang tinggal di wilayah yang sama. Ia merupakan entitas yang dibentuk oleh sejarah, budaya, bahasa, cita-cita, dan kesadaran untuk hidup terhormat di tengah bangsa-bangsa lain.

“Sebagaimana setiap manusia mendambakan kemuliaan, setiap bangsa pun mendambakan kehormatan dan martabat.”

Ceramah Ustadz Zahir mulai bergerak dari wilayah etika menuju pemikiran kebangsaan. Ustadz Zahir mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan suatu bangsa sering kali terjebak pada indikator-indikator yang bersifat material. Kemajuan ekonomi, kekuatan militer, besarnya pendapatan per kapita, maupun luasnya hubungan internasional memang penting, tetapi semuanya tidak otomatis melahirkan bangsa yang bermartabat.

“Sebagaimana kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh hartanya, pangkatnya, jabatannya, atau banyaknya pengikutnya,” katanya, “demikian pula kemuliaan sebuah bangsa tidak ditentukan hanya oleh pertumbuhan ekonominya atau luasnya hubungan internasionalnya.”

Menurutnya, bangsa yang benar-benar bermartabat bukanlah bangsa yang sekadar tampak kuat dari luar, melainkan bangsa yang memiliki kebebasan menentukan arah hidupnya sendiri.

Ustadz Zahir menyampaikan salah satu gagasan paling penting dalam keseluruhan ceramahnya. “Kehormatan, kemuliaan, dan martabat sebuah bangsa ditentukan ketika bangsa itu mampu menentukan seluruh kebijakannya sendiri, merencanakan seluruh programnya sendiri, dan menjadikan kepentingan nasional sebagai satu-satunya pertimbangan.”

Dengan kata lain, kemerdekaan tidak berhenti pada pengakuan politik atau simbol-simbol kenegaraan. Kemerdekaan memperoleh maknanya ketika suatu bangsa benar-benar memiliki kedaulatan dalam mengambil keputusan tanpa tekanan, paksaan, ataupun dikte dari kekuatan lain.

“Seluruh prestasi yang dicapai sebuah bangsa tidak akan mengantarkannya kepada kehormatan apabila prestasi itu lahir karena pengaruh, tekanan, atau bahkan dikte dari pihak asing.”

Kalimat tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan tragedi Karbala dengan realitas kehidupan bangsa-bangsa modern. Jika Imam Husain menolak tunduk kepada Yazid demi menjaga martabat manusia, maka bangsa-bangsa pada setiap zaman juga dituntut menjaga martabatnya dengan mempertahankan kemandirian dalam menentukan masa depannya sendiri.