Tauhid dan Penolakan terhadap Thaghut 1
Bagi Ustadz Zahir, prinsip itu bukan hanya pandangan politik, namun berakar langsung pada ajaran tauhid yang dibawa seluruh nabi. “Kemuliaan dan martabat yang dicari oleh setiap manusia dan setiap bangsa pada hakikatnya juga merupakan perintah agama.”
Ustadz Zahir kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surah An-Nahl ayat 36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat untuk menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'” (QS. An-Nahl [16]: 36)
Menurut Ustadz Zahir, ayat tersebut memuat benang merah yang menyatukan seluruh risalah kenabian. Semua nabi datang membawa dua seruan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu mengesakan Allah dan membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada-Nya.
Tauhid, dengan demikian, bukan hanya persoalan akidah yang berkaitan dengan hubungan manusia dan Tuhan. Tauhid juga melahirkan konsekuensi sosial, politik, dan peradaban. Seseorang yang mengakui hanya Allah sebagai satu-satunya Tuhan tidak sepatutnya menyerahkan kemerdekaan dirinya kepada kekuatan lain yang hendak menguasai hati, pikiran, ataupun keputusan hidupnya.
Prinsip yang sama, lanjut Ustadz Zahir, berlaku pula bagi sebuah bangsa. Bangsa yang menjadikan tauhid sebagai fondasi kehidupannya dituntut untuk menjaga kebebasan dalam menentukan arah kebijakannya sendiri. Sebab kemerdekaan bukan hanya hak politik, melainkan bagian dari amanah keimanan.

