Tauhid dan Penolakan terhadap Thaghut 3
Karena itu, lanjut Ustadz Zahir, perintah Al-Qur’an untuk menjauhi thaghut bukan sekadar larangan teologis, melainkan seruan pembebasan.
“Ketika Allah memerintahkan umat manusia menjauhi thaghut, artinya Allah memerintahkan kita menjadi manusia yang merdeka dan bangsa yang merdeka.”
Baginya, menolak thaghut berarti menolak segala bentuk dominasi yang merendahkan martabat manusia. Penolakan itu tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui keberanian menjaga kebebasan berpikir, kebebasan menentukan sikap, dan kebebasan menetapkan arah kehidupan tanpa dikendalikan oleh kepentingan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.
Untuk memperkuat pandangannya, Ustadz Zahir mengutip salah satu wasiat paling terkenal dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s.
لَا تَكُنْ عَبْدَ غَيْرِكَ وَقَدْ جَعَلَكَ اللَّهُ حُرًّا
“Janganlah engkau menjadi budak orang lain, padahal Allah telah menjadikanmu seorang yang merdeka.”
Menurutnya, kalimat singkat itu merupakan manifestasi ajaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan bukan sekadar hak yang diberikan negara atau diakui oleh hukum, melainkan fitrah yang telah dianugerahkan Allah kepada setiap manusia. Oleh sebab itu, setiap bentuk penghambaan kepada selain Allah, baik kepada individu, kekuasaan, kepentingan politik, maupun tekanan ekonomi, pada hakikatnya merupakan penyimpangan dari tujuan penciptaan manusia.

