Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Hayhāt minnā al-dhillah 1

0 Pendapat 00.0 / 5

Menjelang akhir ceramah, suasana majelis kembali hening. Setelah membawa hadirin menelusuri perjalanan panjang dari Madinah hingga Karbala, dari tragedi Asyura hingga makna kemerdekaan sebuah bangsa, Ustadz Zahir menutup seluruh argumentasinya dengan satu refleksi yang mengikat seluruh pembahasan.

“Kita mungkin sanggup menghadapi berbagai kesulitan ekonomi,” ujarnya.

“Kita mungkin mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.”

“Tetapi sebagai pengikut Abu Abdillah al-Husain, kita tidak akan pernah sanggup menanggung kehinaan.”

Kalimat itu bukan hanya penutup ceramah. Kalimat itu menjadi simpul dari seluruh gagasan yang dibangun sejak awal. Bagi Ustadz Zahir, Asyura mengajarkan bahwa kehormatan manusia tidak boleh ditukar dengan rasa aman yang lahir dari ketundukan. Kemerdekaan bukan sekadar status politik, melainkan kemampuan menjaga martabat di tengah berbagai bentuk tekanan dan dominasi.

Karena itulah semboyan yang lahir di Padang Karbala lebih dari empat belas abad lalu tetap hidup hingga hari ini.

هَيْهَاتَ مِنَّا الذِّلَّةُ

*Hayhāt minnā al-dhillah. *