Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Menjawab Tuduhan Gen Syiah 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Jenjang keilmuan dalam mazhab Syiah.

Kita akan sering menemukan gelar seperti Hujjatul Islam,  Ayatullah, yang semuanya itu merupakan symbol dari jenjang ilmunya. Bukan asal-asalan disematkan berbagai gelar seperti itu.

 

    Kurikulum hauzah (pesantren dalam mazhab Syiah) yang dibagi pada tiga tingkatan pelajaran secara garis besarnya. Mukaddimah, Pelajaran Tengah, Pelajaran Tinggi dan Tingkat Sangat Tinggi (Bahtsu al-Kharij).

 

        Mukadidimah itu 4-5 tahun; Pelajaran Tengah 3 tahun setelahnya; Pelajaran Tinggi 5 tahun setelahnya dan Pelajaran Sangat Tinggi 10-20 tahun setelahnya.

        Pertama masuk hauzah dijuluki Tsiqatu al-Islam, yang jujur atau yang bisa dipercaya. Hal itu karena ia sudah meninggalkan apa-apa yang berbau dunia, seperti dosa atau hal-hal mubah yang tidak penting, seperti model baju, warna baju dst. Karena itu, semua baju-bajunya yang berhias, seperti bergambar bunga atau lain-lainnya, begitu pula celana jins harus diberikan kepada orang lain. Walhasil seperti calon pendeta Budha yang digundul.

        Kalau sudah selesai pelajaran Tengah itu, dijuluki Hujatu al-Islam, yakni kalau sudah 7 tahun di pesantren, dan  memakai sorban. Karena memakai sorban sudah mulai menjadi tempat bertanya tiap orang yang menjumpainya di pasar, di jalan, di masjid dan dimana saja, kalau mereka memiliki masalah menyangkut fikih.

        Jika meningkat dengan  sering memberikan ceramah umum, maka biasa disebut dengan Hujatu al-Islam wa Muslimin.

        “Hujatu al-Islam terus berlanjut sampai seseorang menjadi mujtahid penuh yang dikenal dengan Mujtahid Mutlak, Ayatullah atau Faqih. Jadi, Hujjatu al-Islam ini dari sejak di hauzah 7 tahun, sampai 15-25 tahun setelahnya di Pelajaran Tinggi dan Tingkat Sangat Tinggi (Bahtsu al-Kharij).

 

    Pelajaran ini, langsung diberikan oleh mujtahid, baik marja’ atau bukan. Kalau pelajaran-pelajaran terdahulu, seorang pelajar agama mempelajari fikih dan ushulfikih dari kitab-kitab yang sudah ditentukan oleh hauzah, maka di tingkat ini sudah tidak menggunakan kitab lagi. Artinya sang mujtahid itu sendiri yang menyampaikan ijtihadnya dengan seluruh dalil-dalilnya, baik dalam fikih atau ushulfikih. Dan tugas seorang pelajar disini, mendengarkan secara seksama, lalu menulis pelarannya itu, lalu mendebat gurunya manakala dirasa tidak sesuai dengan pandangannya.

 

    Intinya, seorang pelajar di tingkat ini, disamping menambah pengetahuan fikih dan ushulfikihnya, ia juga harus berlatih untuk berijtihad sendiri, hingga kalau menguatkan gurunya harus dengan dalilnya sendiri dan bgt pula kalau ingin melemahkan gurunya. Ia sudah harus latihan untuk tidak terikat dengan pandangan siapapun walau dari guru yang sangat dikaguminya.

 

    Dengan menimbang ketatnya peraturan mazhab Syiah mengklasifikasi jenjang keilmuan, saya mendeteksi banyak kejanggalan dalam pernyataannya di video tersebut.

 

    Dari perkataannya, ia menulis kitab ushulfiqih ketika belajar Kifaayah. Ini janggal,  karena kitab Kifaayah itu merupakan  pengantar  pelajar agama untuk naik ke tingkat yg lebih tinggi. Yakni ke jenjang Bahtsu al-Kharij sebagaimana penjelasan diatas. Pelajar  yang masih mengkaji kitab Kifaayah itu, sama sekali belum terhitung ulama, apalagi sampai menulis kitab. Semua orang yang belajar di hauzah tahu akan hal ini.

 

    Kejanggalan berikutnya, ia mengatakan  belajar ke seorang ulama/mujtahid, tapi sendirian dan tidak di kelas. Apakah ia sengaja menutupi hal tersebut agar tidak diselidiki dari sisi kesaksian? Jadi dengan pernyataannya itu, tidak ada saksi hidup satupun yang menyaksikan bahwa ia belajar ke ulama yang ia sebut itu. Ini sudah keluar dari nilai standar profesionalisme kependidikan di hauzah. Masih kejanggalan yang lain, ia menyebutkan nama seorang guru di Qom yang mungkin tak seorangpun mengenalnya (atau memang hanya karangannya semata?)

 

    Ia juga mengatakan bahwa dengan belajar 2 tahun,  sudah diluluskan sebagai mujtahid mutajazzi’ oleh sang guru. Tapi ia tidak menunjukkan buktinya. Padahal kebiasaan budaya hauzah, selalu ada surat kelulusan akan hal itu, baik Mujtahid Mutajazzi’ (mujtahid belum penuh) atau Mujtahi Mutlak (penuh).

    Yang lebih kacau lagi, ia mengatakan dalam waktu singkat setelah itu, ia mencapai mujtahid mutlak yang sekali lagi, tidak menunjukkan surat kelulusannya.

 

    Kemudian untuk menguatkan ke-mujtahid-annya, ia mengatakan bahwa ia mengajar Bahtsu al-Kharij. Tapi ia tidak menyebutkan satu orangpun yang belajar kepadanya. Padahal, dalam kebiasaan sejarah hidup ulama, disamping menyebutkan guru-gurunya, mereka juga menyebutkan murid-muridnya. Yang lebih ajaib lagi, ia disebutkan sebagai seorang marja’, tapi tidak menyebutkan kitab fikihnya.”

 

Kasus Lain dengan Motif Serupa

Mengapa saya keluar dari syiah

 

Kasus yang lain dengan motif serupa juga pernah terjadi, yaitu ketika diterbitkannya sebuah buku yang berjudul “Mengapa Saya Keluar dari Syiah.” Buku ini judul aslinya adalah Lillahi Tsumma Lil-Tarikh, termasuk buku yang menjadi andalan takfiri untuk menghujat mahzab Syiah.  Judul yang provokatif dan tentu saja para pembaca akan sulit menemukan hal-hal yang baik di dalam kitab tersebut.

 

Pokok bahasan ini bisa dibilang sudah basi dan cukup banyak jawaban dari muslim Syiah. Penulis kitab ini “fiktif” dan kitab tersebut penuh dengan kedustaan.

Misalnya, “Dalam kunjungan saya ke India, saya bertemu dengan Sayyid Daldar Ali, dia memperlihatkan kepada saya kitabnya yaitu Asaas Al Ushul. Disebutkan dalam halaman 51 “bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari para Imam sangat bertentangan . Tidak ada satu hadispun kecuali ada hadis lain yang menafikannya, tidak ada suatu khabar yang sesuai kecuali terdapat kabar yang menantangnya”. Inilah yang menyebabkan sebagian besar manusia meninggalkan mahzab Syiah [Lillahi Tsumma Lil-Tarikh hal 134]

 

Disebutkan bahwa Sayyid Daldar Ali bin Muhammad An Naqawiiy penulis kitab Asaas Al Ushul wafat pada tahun 1235 H [Adz Dzarii’ah ilaa Tashanif Asy Syii’ah 2/4 Syaikh Agha Bazrak Ath Thahraani]

 

Berdasarkan keterangannya sendiri maka Husain Al Musawi diperkirakan lahir pada tahun 1344 H atau di atas tahun tersebut dan berdasarkan keterangannya sendiri Husain Al Musawi bertemu dengan Sayyid Daldar Ali yang wafat pada tahun 1235 H. Bagaimana mungkin Husain Al Musawi yang belum lahir bisa bertemu dengan Sayyid Daldar Ali?. Bukankah Husain Al Musawi lahir lebih dari 100 tahun setelah wafatnya Sayyid Daldar Ali? Hal ini jelas sekali menunjukkan kedustaan yang nyata. Pengakuan Husain Al Musawi di atas itu sudah pasti dusta. Jika seseorang telah terbukti berdusta dalam buku yang ia tulis maka sangatlah wajar untuk meragukan keabsahan isi-isi bukunya.

 

Untuk menjawab buku “Mengapa Saya Keluar dari Syiah,” pihak muslim Syiah juga telah menerbitkan buku yang berjudul “Demi Allah Junjunglah Kebenaran.” Seharusnya, seperti yang telah sering diulang-ulang, untuk memenuhi standar keadilan ketika menerima berita dari manapun asalnya, haruslah diteliti kembali keabsahannya, karena itulah sikap orang-orang yang beriman.