Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Filsafat & Irfan

Murtadha Muthahhari: Kritik atas Materialisme Historis(2)

Murtadha Muthahhari: Kritik atas Materialisme Historis(2)

Secara ontologis, jiwa memiliki kenyataannya sendiri sementara materi memiliki kenyataannya sendiri, namun dalam pertautan epistemologi tidak mungkin tidak pasti dimulai dari kenyataan-kenyataan material. Di sinilah Marx tidak memilah mana materi dan jiwa dalam pengertian ontologis dan epistemologis.

Baca Yang lain

Murtadha Muthahhari: Kritik atas Materialisme Historis(1)

Murtadha Muthahhari: Kritik atas Materialisme Historis(1) Setidaknya ada tiga prinsip yang menjadi dasar pandangan Materialisme Historis yang memiliki konsekuensi pada hal-hal lainnya. Pertama, yang mendasar di realitas alam ini ialah, materi bukan jiwa. Kedua, tindakan merupakan kunci dan kriteria berpikir. Ketiga, kemendasaran dimensi material pada masyarakat.

Baca Yang lain

Deradikalisasi Kelompok Radikal Melaui Metode Sufisme dan Irfan 2

Deradikalisasi Kelompok Radikal Melaui Metode Sufisme dan Irfan 2 Konteks deradikalisasi dapat dilakukan dalam beberapa tahap, jadi tidak bisa langsung dilakukan pengobatan, ibarat ingin menanam sayur di ladang, setelah selesai mencangkul maka harus dibersihkan dulu dari akar-akar yang mengganggu, dari batu-batu kerikil dan lainnya, diberi kapur sehingga tanah menjadi netral jadi tidak langsung ditanami terlebih dahulu.

Baca Yang lain

Deradikalisasi Kelompok Radikal Melaui Metode Sufisme dan Irfan

Deradikalisasi Kelompok Radikal Melaui Metode Sufisme dan Irfan Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف, ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun dhahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.[1] Pelaku dari amalan ini sering disebut dengan sufi.

Baca Yang lain

Cinta Rabiah Adawiyah

Cinta Rabiah Adawiyah Rabiah Adawiyah mencintai Rasulullah saw dengan cinta yang luar biasa, para sejarawan menyebutkan bahwa ibadahnya sangat baik dan sempurna, yang jarang ditemukan ibadah seperti itu pada kalangan kaum pria apalagi kalangan kaum Hawa. Rabiah terbiasa melakukan shalat 1000 rakaat sehari semalam. Pernah ada orang bertanya kepadanya  “Apa yang engkau inginkan dengan ibadah ini ?” Rabiah menjawab “Aku melakukannya untuk menggembirakan Rasulullah pada hari kiamat dimana beliau akan berkata kepada para Nabi “Lihatlah dari salah seorang wanita umatku yang memiliki amalan seperti ini !”.

Baca Yang lain

Syekh Ahmad Jam: Kisah Hijrah Seorang Sufi

Syekh Ahmad Jam: Kisah Hijrah Seorang Sufi Awal musim panas, Juni 2019. Matahari pagi itu terasa begitu menyengat, padahal jam di tangan saya baru menunjukkan pukul sembilan. Pada sebuah papan petunjuk tertulis nama kota “Torbat-e Jam”. Sesungguhnya, kota ini tidak pernah ada dalam destinasi kami. Pemilik rumah tradisional di Nashtifan, menyarankan kami untuk singgah ke tempat ini. “Kalian tidak akan menyesal. Di sana ada makam sufi besar, Syekh Ahmad Jam,” katanyaya penuh keyakinan.

Baca Yang lain

Irfan Sebagai Solusi yang Mulai Digandrungi

Irfan Sebagai Solusi yang Mulai Digandrungi Di alam kosmik, umat manusia seperti sebuah bola yang dilemparkan ke angkasa dengan dibekali energi potensial untuk terbang ke Alam Semesta raya. Tapi daya Tarik grafitasilah yang menarik mereka sehingga bisa bersandar pada planet bumi. Manusia secara materi pun sebenarnya sangat berkekurangan. Manusia bukan apa-apa, penuh kebergantungan kepada hal-hal lain. Jadi untuk menempel di bumi saja sebenarnya manusia sangat bergantung dengan gravitasi bumi

Baca Yang lain

Ngaji Rumi: Tuma’ninah, Jurus Ampuh di Era Modern

Ngaji Rumi: Tuma’ninah, Jurus Ampuh di Era Modern Tuhan mencipta alam dengan perlahan     hingga menyempurna tujuh tahapan     Bisa saja Ia berfirman kun fayakun     seratus bumi dan langit mewujud

Baca Yang lain

Logika Munafik

Logika Munafik Pernah ada seorang selebritis yang menjelaskan aktivitasnya dalam mencari kehidupan duniawiah. Demi mengejar bayaran yang tinggi, dia siap melakoni jadwal pentas sepadat apapun. Mumpung masih muda dan sedang berada di awang-awang popularitas, katanya. Terkadang norma-norma sosial dan agama dilabrak tanpa ampun. Mengumbar aurat pun tidak membuatnya merasa malu. Katanya, “Saya nggak mau munafik-lah!”

Baca Yang lain

Ajaran Tasawuf-Suluk Sayidina Imam Ja’far ash-Shadiq Yang Diijazahkan Kepada ‘Unwan Bashri (Bagian Pertama)

Ajaran Tasawuf-Suluk Sayidina Imam Ja’far ash-Shadiq Yang Diijazahkan Kepada ‘Unwan Bashri (Bagian Pertama) Riwayat ‘Unwan Bashr[1]i merupakan pedoman berharga bagi para penempuh jalan ahlul bait. Riwayat ini mendapat perhatian khusus ‘urafa dan salikin dan Al-Majlisi menyaksikan riwayat ini dengan tulisan tangan Syekh Baha’i dan menukilnya dalam kitab Bihar al-Anwar.

Baca Yang lain

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag. 2 (part2)

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag. 2 (part2) Menurut keyakinan kami hakikat adalah apa yang dikatakan oleh filosof peripatetik, yaitu keprinsipalitasan wujud. Argumen yang membuktikan kemendasaran eksistensi dijelaskan berikut ini:

Baca Yang lain

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag. 2 (part1)

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag. 2 (part1) Sekarang setelah kita ketahui bahwa dalam berhadapan dengan setiap realitas, tergambar dua konsep dalam dzihn (akal, mental) kita, salah satunya konsep wujud dan lainnya mahiyah, pertanyaan berikutnya yang muncul, yang mana dari kedua konsep tersebut yang mempunyai realitas hakiki. Yakni yang mana dari keduanya ini, dalam artian kata yang hakiki dan tanpa majazi, yang mewujud di luar dan membentuk teks realitas di luar?

Baca Yang lain

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag.1

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag.1 Kemendasaran eksistensi merupakan pusat dan sentral dari pembahasan filsafat Hikmah Muta’aliyah, dimana Filosof Mulla Sadra memulai pembahasan ini secara panjang lebar dan terpisah dalam buku Al-Asfar Arba’ahnya. Kemahiran Mulla Shadra dalam pembahasan ini (kemendasaran eksistensi dan keiktibaran esensi) memberi landasan kokoh bagi filsafat Hikmat Muta’aliyah dan memberi solusi yang besar terhadap berbagai masalah kefilsafatan, seperti Wahdatul Wujud, Kausalitas, Eskatologi, Free will dan Determinisme, Baik dan Buruk (secara tinjauan eksistensi), dan pembahasan-pembahasan filsafat lainnya.  

Baca Yang lain

Argumen Filosofis dan Teologis Tauhid Dzat Tuhan

Argumen Filosofis dan Teologis Tauhid Dzat Tuhan Dalam ajaran samawi, konsep tentang Tauhid keberadaan Eksistensi Tuhan Pencipta menjadi sesuatu yang sangat prinsipal dan mendasar disamping keyakinan terhadap ma’ad (eskatologi) dan nubuwwah (kenabian). Dalam tulisan ini akan disajikan paparan argumen Tauhid Dzat untuk membuktikan bahwa Eksistensi Tuhan Pencipta  secara dzati adalah satu, esa, dan tunggal (Tauhid Dzat Tuhan).

Baca Yang lain

Sekilas Tentang Kenabian dalam Irfan

Sekilas Tentang Kenabian dalam Irfan Dalam menentukan akar kata nabi terdapat tiga kemungkinan. Pertama, nabi berasal dari kata “naba-a” yang bermakna  berita atau kabar. Sebab nabi mengabarkan berita dari Tuhan dan menyampaikan kepada manusia tentang dzat, sifat, perbuatan, dan hukum-hukum-Nya.

Baca Yang lain

Asma Illahi Dalam Perspektif ‘Irfan

Asma Illahi Dalam Perspektif ‘Irfan Nama-nama Allah (selanjutnya ditulis Asma Ilahi) adalah salah satu fondasi yang sangat penting dalam ‘irfan teori (‘irfan nazhari). Kedudukannya dalam doktrin-doktrin irfan menjadi simpul bagi doktrin wahdatul wujud, aktifitas al-Haq, dan makhluk-makhluk-Nya serta tajalli-Nya.  Dalam epistemologi ‘irfan, puncak visi yang tertinggi adalah menyaksikan asma-asma Ilahi. Asma Ilahi juga menjadi fondasi bagi etika atau filsafat etika Islam. Tanpa memahami dan mengerti posisi asma Ilahi, maka filsafat etika Islam akan kehilangan status ontologi, epistemologi dan axiologinya.

Baca Yang lain

Harakah Jawhariyah Dalam Perbincangan

Harakah Jawhariyah Dalam Perbincangan Ada beberapa kata kunci yang menjadi elemen dari teori trasformasi substansi (harakah jawhariyah) Mulla Sadra. Kunci-kunci itu adalah  hayula yang menjadi lokus (mawdhu’) dari  harakah jawhariyah, Kerjasama antara akal dan indera dalam menyerap gerakan(harakah), Harakah itu berlaku untuk wujud yang paling  rendah yang ingin menyempurna,  Harakah bukan hanya dalam tataran kulit, luaran tapi dalam tataran substansi. Harakah adalah aktualitas yang berproses mejadi mewaktu.

Baca Yang lain

Argumen Teologis dan Filosofis Pembuktian Eksistensi Tuhan

Argumen Teologis dan Filosofis Pembuktian Eksistensi Tuhan Pengetahuan dan pengenalan terhadap kausa prima  eksistensi senantiasa menjadi   substansi tema pembahasan bagi  teolog dan filosof di sepanjang sejarah. Pada sisi lain, konsepsi tentang kausa prima eksistensi serta hubungannya dengan manusia dan alam telah menjadi inti munculnya perbedaan agama dan maktab keyakinan. Oleh karena itu, bagi kaum muslimin peran pengetahuan tentang penegasan eksistensi Tuhan dan tauhid merupakan hal yang sangat prinsipal bagi mereka. Dengan kata lain, mereka berupaya mengkonstruksi dan menyempurnakan pengetahuannya tentang keberadan wujud Tuhan dan berusaha mendesain argumen yang berfungsi menguatkan kepercayaan dan keyakinan pada wujud-Nya serta menghilangkan keraguan dan skeptis terhadap-Nya.

Baca Yang lain

Urgensi dan Kiat Muraqabah dalam Tasawuf

Urgensi dan Kiat Muraqabah dalam Tasawuf Muraqabah (kewaspadaan supaya tidak hanyut dalam dosa) adalah tema pemting dalam ‘irfan amali. ‘Urafa seperti Mirza Jawad Maliki Tabrizi dan Imam as-Sayid Musawi Khomaini sangat meneknkan pentingnya muraqabah bagi salik. Tanpa muraqabah maka amalan akan sia-sia dan hampa dan seorang salik akan tercegah dari memperoleh maqam-maqam suluk. Dan taubat yang efektif dan positif harus disertai dengan muraqabah sehingga melahirkan transformasi dan bahkan revolusi spiritual bagi musafir Ilahi.  

Baca Yang lain

MAKSUD DARI PENYAKSIAN KALBU ATAU MUKASYAFAH

MAKSUD DARI PENYAKSIAN KALBU ATAU MUKASYAFAH Ini adalah sebuah topik pembahasan yang telah direfleksikan dalam surat At-Takatsur [102], ayat 5 dan 6 yang menegaskan, “Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Jahannam.”

Baca Yang lain