Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Filsafat & Irfan

Makna Jihad al-Nafs, Jihad Melawan Hawa Nafsu (2)

Makna Jihad al-Nafs, Jihad Melawan Hawa Nafsu (2)

Terkadang Imam Ja’far Shadiq berbisik kepadanya, dan terkadang Jabir yang berbicara kepada Imam Ja’far Shadiq. Saya pun duduk di samping Imam Ja’far untuk beberapa saat, dan kemudian keluar. Jabir melihat saya, sementara saya terheran-heran. Jabir bertanya, ‘Apakah engkau hendak kembali ke Kufah?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Jabir berkata, ‘Pejamkan kedua matamu dan peganglah tanganku.’ Kemudian saya membuka kedua mataku, tiba-tiba saya telah berada di Kufah.”

Baca Yang lain

Makna Jihad al-Nafs, Jihad Melawan Hawa Nafsu (1)

Makna Jihad al-Nafs, Jihad Melawan Hawa Nafsu (1) Manusia mempunyai kelebihan di antara semua makhluk. Kelebihan itu ialah bahwa manusia mempunyai dua dimensi. Pertama, dimensi materi, yang di dalam filsafat dinamakan juga dengan dimensi hewani. Di dalam filsafat, jisim manusia dinamakan dengan gharizah (insting) atau raghbah (kecenderungan), sementara di dalam ilmu akhlak dan irfan Islami dinamakan dengan orientasi hewani, atau dimensi hewani manusia.

Baca Yang lain

Imam Khomeini: Perjalanan dari Nol Menuju Nol

Imam Khomeini: Perjalanan dari Nol Menuju Nol Sadar bahwa diri lemah, miskin dan bodoh merupakan titik balik pada jati diri dan hakikat manusia yang sesungguhnya. Manusia yang belum sadar tentang itu berarti belum paham tentang jati diri dan hakikat dirinya. Dia hanya ada pada kondisi merasa kuat, kaya dan pintar, tetapi apa makna sebuah perasaan?

Baca Yang lain

Potensi Manusia Menurut Filsuf Persia

Potensi Manusia Menurut Filsuf Persia “Kalau kalian menemukan kemampuan diri dan kalian merasa ada potensi untuk menjadi Ustadz yang baik, Guru yang baik, Mufasir yang baik, Hakim yang baik, Filosof yang baik, Ahli kalam yang baik, Faqih yang baik, serta Ahli Ushul yang baik, janganlah kalian membuang percuma umur kalian.” tuturnya.

Baca Yang lain

Etika Lingkungan Hidup sebagai Konsekuensi Tauhid

Etika Lingkungan Hidup sebagai Konsekuensi Tauhid Kembali pada definisi iman, bahwa iman bukan saja mengucapkan dengan lisan yaitu, bersayahadat, melainkan juga menetapkan di hati dan membuktikannya lewat perbuatan. Pembuktian keimanan lewat perbuatan dalam konteks lingkungan hidup ialah, menjaga, merawat dan melestarikan alam semesta hingga alam menemui keharmonisan dan keseimbangannya.

Baca Yang lain

Prinsip dan Kriteria Kausalitas

Prinsip dan Kriteria Kausalitas Pandangan kaum esensialis masih terjebak dalam tataran konseptual. Bahwa suatu esensi hanya lingkup mental belaka, sehingga dengan mengatakan “ia mungkin menerima wujud” adalah konstruksi rasional dan bukan kenyataan. Karena dalam kenyataannya, tidak mungkin ada esensi yang justru keberadaannya masih mungkin baginya.

Baca Yang lain

Konsepsi Kausalitas dan Urgensinya

Konsepsi Kausalitas dan Urgensinya Manusia tidak saja bernalar dengan kausalitas namun mampu mengembangkan sistem kausalitas pada tataran teoritis, sehingga mampu sampai pada keharusan akan adanya wujud mutlak sebagai sumber dari segala yang maujud. Dan konsep kausalitas nantinya tidak saja berkisar pada dunia obyektif material tapi juga dapat menjadi fondasi untuk menyingkap pola-pola metafisik sehingga dapat memberi makna yang luas akan hakikat kehidupan.

Baca Yang lain

Ideologi Islam; Perspektif Ruhaniah Masyarakat dan Sejarah

Ideologi Islam; Perspektif Ruhaniah Masyarakat dan Sejarah Di dalam Islam, Amar Makruf Nahyi Munkar sangat berurusan dengan jiwa manusia. Segala perintah dan larangan yang diatur di dalamnya tidak lain adalah jalan bagi jiwa untuk mendapatkan kestabilannya. Stabilitas jiwa didapatkan karena adanya koneksi dengan Allah SWT. Dari tiga faktor penyebab jatuh-bangunnya suatu masyarakat di dalamnya semua tergantung bagaimana kualitas jiwa suatu masyarakat tersebut dibangun. Jiwa adalah dimensi dari ruhaniyah yang ada di dalam diri manusia. Kesimpulan yang bisa kita ambil di sini, bahwa sistem masyarakat Islam dibangun berdasarkan hakikat masyarakat itu sendiri yaitu, dimensi ruhanuyahnya bukan materil atau bendawinya.

Baca Yang lain

Konsepsi Sejarah Menurut Murtadha Muthahhari

Konsepsi Sejarah Menurut Murtadha Muthahhari Kesimpulannya ialah, bahwa menurut Mtuhahhari ideologi Islam yang berasaskan tauhid, menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan memperjuangkan nilai kemanusiaan adalah sesuatu yang berdasarkan pada kekuatan ruhaniyah, non material, bukan material apalagi sampai pada basis pembagian kelas level ekonomi, bukan sama sekali.

Baca Yang lain

Argumentasi Integrasi Keilmuan Islam (Ilmuisasi Islam)

Argumentasi Integrasi Keilmuan Islam (Ilmuisasi Islam) Untuk itu, integrasi keilmuan, mesti berangkat dari suatu analisa atas struktur berpikir (epistemologi) dari setiap disiplin keilmuan. Maka di dalam rancang bangun filsafat Islam, asas epistemologisnya dalag rasional, yakni gugus konsepsi-konsepsi yang bersifat pasti (awwaliyyat-badihiyyat). Tanpa sandaran kepastian rasional maka seluruh teori pengetahuan tak akan pernah dapat diabsahkan karena tiadanya dasar yang absah. Termasuk dalam hal ini adalah agama dan spiritualitas. Agama dan spiritualitas dalam dinamika ini tidak diletakkan sebagai doktrin yang diterima kebenarannya secara subyektif, namun ia diletakkan sebagai premis-premis layak dikaji sesuai dengan bangunan epistemologi rasional.

Baca Yang lain

Filosofi Perbedaan Hukum Lelaki dan Perempuan (1)

Filosofi Perbedaan Hukum Lelaki dan Perempuan (1) Islam memiliki filosofi tersendiri terkait hak-hak lelaki dan perempuan. Islam tidak meyakini satu jenis hak, satu jenis kewajiban dan satu jenis hukuman bagi lelaki maupun perempuan dalam semua ihwal dan peristiwa. Islam memandang seperangkat hak dan kewajiban dan hukuman lebih pantas untuk lelaki dan seperangkat lain lebih pantas untuk perempuan. Karena itu, dalam beberapa hal, Islam mengambil sikap dan langkah yang sama terkait perempuan maupun lelaki, dan pada sebagian lainnya mengambil langkah dan sikap yang berbeda.

Baca Yang lain

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 2)

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 2) Dari pembahasan sebelumnya, kita telah mengenal bahwa jin mempunyai kekuatan untuk merasuki tubuh manusia dan jin dengan kekuatannya bisa memindah sesuatu yang berat dari tempat yang jauh dengan cepat. Seperti yang dilakukan oleh Ifrit di zaman kehidupan Nabi Sulaiman as.

Baca Yang lain

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 1)

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 1) Mampu masuk ke dalam sebuah badan manusia dengan mudah bahkan jin pun bisa dengan mudah untuk masuk kedalam sebuah pohon. Setelah masuk, mereka kadang akan mengganggu si pemilik tubuh. Atau bahkan jin pun mampu masuk ke bawah tanah yang mana bawah tanah merupakan tempat tinggal sebagian para jin.

Baca Yang lain

Inilah Nama Jin Yang Paling Pertama Diciptakan Allah Swt

Inilah Nama Jin Yang Paling Pertama Diciptakan Allah Swt Dari sini kita mengetahui bahwa hikmah dari penciptaan jin dan manusia adalah untuk menyembah Allah swt. Mari kita kembali ke pertanyaan sebelumnya. Siapakah jin pertama yang diciptakan oleh Allah swt. Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita merujuk hadits dari Sayidina Ali bin Abi Thalib kwj yang mana beliau adalah seorang pintu ilmu Nabi.

Baca Yang lain

Hakikat Segala Sesuatu: Bentuk dan Makna

Hakikat Segala Sesuatu: Bentuk dan Makna Akal memang mampu menangkap ilmu dan mengembangkannya. Tapi ia hanya berupa gambaran-gambaran, sementara sang makna harus disingkap dengan cara yang lain, yakni hati yang penuh cinta. Hati dan cinta menjadi alat epistemologis yang khas bagi kaum sufi. Karena pada mulanya adalah Tuhan yang Maha Cinta. Dan semua terjadi karena Cinta. Karena bagi Tuhan segala sesuatu terjadi di bawah kuasa dan izinNya sehingga tidak mungkin terjadi suatu hal yang dibenciNya sendiri. Sementara kebaikan dan keburukan sebagaimana berlaku dalam kategori etis yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia sendiri. Karena kebaikan manusia tak menambah apa-apa pada kekuasaan Tuhan yang secara hakikat sempurna, begitu pula keburukan manusia pun tak mengurangi apa-apa dari kekuasaanNya.

Baca Yang lain

Ruh, Hati dan Akal

Ruh, Hati dan Akal Manusia adalah makhluk bereksistensi. Ia ada sebagai bagian dari yang hadir di alam realitas. Sebagai bagian tersebut, ia ada secara bersamaan dengan entitas-entitas alam yang lain: langit, bumi, tumbuhan hewan dan sebagainya. Namun cara bereksistensi manusia amatlah khas. Pusat keunikan eksistensi manusia adalah kesadaran bahwa dirinya eksis. Karena kesadaran inilah yang menjadikan manusia tak sekedar menyadari dirinya yang eksis tapi lebih dari itu ia dapat bertanya ‘mengapa ia mesti eksis?’.

Baca Yang lain

Pandangan Ahli Tasawuf tentang Iman: Bertambah dan Berkurang

Pandangan Ahli Tasawuf tentang Iman: Bertambah dan Berkurang (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Baca Yang lain

Latar Belakang Kemunculan Pergulatan Integrasi Ilmu Dalam Epistemologi Islam

Latar Belakang Kemunculan Pergulatan Integrasi Ilmu Dalam Epistemologi Islam Dalam epistemologi terdapat beberapa aliran pengetahuan. Masing-masing aliran memiliki pemahaman tentang apa yang disebut sebagai pengetahuan. Ada yang menganggap pengetahuan adalah sesuatu yang dialami (kaum empiris). Ada yang menganggap pengetahuan adalah sesuatu yang ada di pikiran saja (kaum rasionalis). Kaum empiris cenderung objektif yakni melihat pada objek kasat matanya saja, sedangkan kaum rasionalis cenderung subjektif karena bersandar pada konsep yang ada pada pikirannya. Problem inilah yang sebenarnya harus diselesaikan terlebih dahulu, sebelum membicarakan integrasi keilmuan. Karena problem integrasi adalah problem epistemologis.

Baca Yang lain

Argumentasi Epistemologis Integrasi Ilmu (1) Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Argumentasi Epistemologis Integrasi Ilmu (1) Islamisasi Ilmu Pengetahuan Salah satu gagasan yang berusaha untuk mencari titik temu antara agama dengan ilmu pengetahuan adalah konsep islamisasi ilmu pengetahuan. Gagasan ini dipelopori oleh Ismail Raji al-Faruqi dan Naquib al-Attas. Meskipun keduanya memiliki semangat mempertemukan kembali antara agama dengan ilmu pengetahuan, namun keduanya memiliki penekanan yang berbeda didasari pada apa yang menjadi problem mendasar keterpisahan antara ilmu pengetahuan dan agama itu sendiri.

Baca Yang lain

Manusia dan Eksistensi Jiwanya

Manusia dan Eksistensi Jiwanya Namun logika ini tidak serta merta mereduksi eksistensi materi pada dirinya. Materi sebagai eksistensi pada realitas tetaplah eksis sekalipun tidak dikonsepsi, tapi makna materialitasnya hanya mungkin dimengerti secara konseptual (jiwa). Maka mengakui adanya yang disebut ‘materi’ telah dengan sendirinya meneguhkan eksistensi jiwa yang memaknainya sebagai materi. Sehingga menolak keberadaan jiwa dan hanya meyakini eksistensi materi dengan sendirinya menolak materi itu sendiri. Karena bagaimana pun suatu eksistensi pada dirinya hanyalah eksistensi, ia disebut materi lantaran kemampuan kita mempersepsinya dengan indra. Tanpa persepsi indrawi sesuatu hanyalah eksistensi dan belum dapat dimaknai sebagai materi.

Baca Yang lain