Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Filsafat & Irfan

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag.1

Pelajaran Filsafat Hikmah Muta’aliyah Bag.1

Kemendasaran eksistensi merupakan pusat dan sentral dari pembahasan filsafat Hikmah Muta’aliyah, dimana Filosof Mulla Sadra memulai pembahasan ini secara panjang lebar dan terpisah dalam buku Al-Asfar Arba’ahnya. Kemahiran Mulla Shadra dalam pembahasan ini (kemendasaran eksistensi dan keiktibaran esensi) memberi landasan kokoh bagi filsafat Hikmat Muta’aliyah dan memberi solusi yang besar terhadap berbagai masalah kefilsafatan, seperti Wahdatul Wujud, Kausalitas, Eskatologi, Free will dan Determinisme, Baik dan Buruk (secara tinjauan eksistensi), dan pembahasan-pembahasan filsafat lainnya.  

Baca Yang lain

Argumen Filosofis dan Teologis Tauhid Dzat Tuhan

Argumen Filosofis dan Teologis Tauhid Dzat Tuhan Dalam ajaran samawi, konsep tentang Tauhid keberadaan Eksistensi Tuhan Pencipta menjadi sesuatu yang sangat prinsipal dan mendasar disamping keyakinan terhadap ma’ad (eskatologi) dan nubuwwah (kenabian). Dalam tulisan ini akan disajikan paparan argumen Tauhid Dzat untuk membuktikan bahwa Eksistensi Tuhan Pencipta  secara dzati adalah satu, esa, dan tunggal (Tauhid Dzat Tuhan).

Baca Yang lain

Sekilas Tentang Kenabian dalam Irfan

Sekilas Tentang Kenabian dalam Irfan Dalam menentukan akar kata nabi terdapat tiga kemungkinan. Pertama, nabi berasal dari kata “naba-a” yang bermakna  berita atau kabar. Sebab nabi mengabarkan berita dari Tuhan dan menyampaikan kepada manusia tentang dzat, sifat, perbuatan, dan hukum-hukum-Nya.

Baca Yang lain

Asma Illahi Dalam Perspektif ‘Irfan

Asma Illahi Dalam Perspektif ‘Irfan Nama-nama Allah (selanjutnya ditulis Asma Ilahi) adalah salah satu fondasi yang sangat penting dalam ‘irfan teori (‘irfan nazhari). Kedudukannya dalam doktrin-doktrin irfan menjadi simpul bagi doktrin wahdatul wujud, aktifitas al-Haq, dan makhluk-makhluk-Nya serta tajalli-Nya.  Dalam epistemologi ‘irfan, puncak visi yang tertinggi adalah menyaksikan asma-asma Ilahi. Asma Ilahi juga menjadi fondasi bagi etika atau filsafat etika Islam. Tanpa memahami dan mengerti posisi asma Ilahi, maka filsafat etika Islam akan kehilangan status ontologi, epistemologi dan axiologinya.

Baca Yang lain

Harakah Jawhariyah Dalam Perbincangan

Harakah Jawhariyah Dalam Perbincangan Ada beberapa kata kunci yang menjadi elemen dari teori trasformasi substansi (harakah jawhariyah) Mulla Sadra. Kunci-kunci itu adalah  hayula yang menjadi lokus (mawdhu’) dari  harakah jawhariyah, Kerjasama antara akal dan indera dalam menyerap gerakan(harakah), Harakah itu berlaku untuk wujud yang paling  rendah yang ingin menyempurna,  Harakah bukan hanya dalam tataran kulit, luaran tapi dalam tataran substansi. Harakah adalah aktualitas yang berproses mejadi mewaktu.

Baca Yang lain

Argumen Teologis dan Filosofis Pembuktian Eksistensi Tuhan

Argumen Teologis dan Filosofis Pembuktian Eksistensi Tuhan Pengetahuan dan pengenalan terhadap kausa prima  eksistensi senantiasa menjadi   substansi tema pembahasan bagi  teolog dan filosof di sepanjang sejarah. Pada sisi lain, konsepsi tentang kausa prima eksistensi serta hubungannya dengan manusia dan alam telah menjadi inti munculnya perbedaan agama dan maktab keyakinan. Oleh karena itu, bagi kaum muslimin peran pengetahuan tentang penegasan eksistensi Tuhan dan tauhid merupakan hal yang sangat prinsipal bagi mereka. Dengan kata lain, mereka berupaya mengkonstruksi dan menyempurnakan pengetahuannya tentang keberadan wujud Tuhan dan berusaha mendesain argumen yang berfungsi menguatkan kepercayaan dan keyakinan pada wujud-Nya serta menghilangkan keraguan dan skeptis terhadap-Nya.

Baca Yang lain

Urgensi dan Kiat Muraqabah dalam Tasawuf

Urgensi dan Kiat Muraqabah dalam Tasawuf Muraqabah (kewaspadaan supaya tidak hanyut dalam dosa) adalah tema pemting dalam ‘irfan amali. ‘Urafa seperti Mirza Jawad Maliki Tabrizi dan Imam as-Sayid Musawi Khomaini sangat meneknkan pentingnya muraqabah bagi salik. Tanpa muraqabah maka amalan akan sia-sia dan hampa dan seorang salik akan tercegah dari memperoleh maqam-maqam suluk. Dan taubat yang efektif dan positif harus disertai dengan muraqabah sehingga melahirkan transformasi dan bahkan revolusi spiritual bagi musafir Ilahi.  

Baca Yang lain

MAKSUD DARI PENYAKSIAN KALBU ATAU MUKASYAFAH

MAKSUD DARI PENYAKSIAN KALBU ATAU MUKASYAFAH Ini adalah sebuah topik pembahasan yang telah direfleksikan dalam surat At-Takatsur [102], ayat 5 dan 6 yang menegaskan, “Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Jahannam.”

Baca Yang lain

Jalan sufi: Jalan Cinta

Jalan sufi: Jalan Cinta Banyak cara dan jalan yang dipilih oleh orang untuk mendekati Tuhan Yang Mahakuasa. Ada yang menghampiri Allah Azza wa Jalla dengan kepintaran logika dan kedahsyatan argumentasinya. Kaum filosof bisa mewakili kelompok ini. Ada lagi yang menjamah Wajibul Wujud dengan slogan nafyu tasybih (penafian penyerupaan Tuhan dengan makhluk) dan isbat tanzih (penetapan kesucian dan kemahadigdayaan Tuhan). Kaum mutakallimin (para teolog) yang    selalu waspada dan sensitif terhadap kuman dan virus syirik berada dalam barisan dan pola pikir ini.  

Baca Yang lain

TAK KULIHAT APAPUN SELAIN CINTA

TAK KULIHAT APAPUN SELAIN CINTA “Orang arif bukanlah arif, kecuali ia tidak melihat apapun selain cinta. Sayyidah Zainab as ketika menghadapi Ubaidillah bin Ziyad di Kufah, menjawab celaan-celaan (yang terkutuk) itu dengan jawaban, ‘Dalam peristiwa Karbala aku tidak melihat sesuatu pun dari sisi Allah, kecuali keindahan dan keelokan.’”

Baca Yang lain

Ilmu Logika dan Kesalahan dalam Berpikir

Ilmu Logika dan Kesalahan dalam Berpikir Syahid Muthahari lebih jauh menjelaskan bahwa hakikat berpikir ialah aktifitas dan perjalanan akal dari satu obyek yang belum diketahui menuju deretan premis-premis yang telah diketahui, kemudian bergerak dari premis-premis tersebut menuju obyek yang diinginkan untuk mengubahnya menjadi sebuah pengetahuan.

Baca Yang lain

Ilmu Jiwa Falsafi : Persaingan jiwa hewani dan jiwa rasional

Ilmu Jiwa Falsafi : Persaingan jiwa hewani dan jiwa rasional Karena alamiahnya manusia hanya membutuhkan rehat, istirahat dalam waktu-waktu tertentu saja (interval) dan  tidak dalam waktu yang lama. Pengalaman yang menyenangkan nafsu perut, faraj, atau nafsu amarah, memiliki durasi yang terbatas, jika melewati batas akan berbalik menjadi negatif.

Baca Yang lain

Cinta dan Isyq dalam Tasawuf

Cinta dan Isyq dalam Tasawuf Pandangan para sufi dan urafa terhadap hakikat dan definisi cinta tidaklah satu dan sama. Sebagian dari mereka mengatakan cinta tidak terdefinisikan dan tersifatkan. Mereka berkeyakinan bahwa bahasa dan ucapan tidak memiliki kapasitas dalam menjelaskan konsepsi dan makna cinta. Anshari Qasim menukil perkataan Ibnu Arabi, Siapa yang mendefinisikan isyq (cinta yang dalam), ia tidak mengetahuinya, dan siapa yang tidak mencicipi cawan cinta, ia tidak mengetahuinya, dan siapa yang mengatakan saya telah kenyang dari cawan minuman cinta, ia tidak mengetahuinya, sebab cinta tidak akan pernah menghilangkan dahaga seseorang (Anshari Qasim, Mabani Irfan wa Tasawuf, hal 90).

Baca Yang lain

Puasa Ramadhan Dalam Perspektif Tasawuf

Puasa Ramadhan Dalam Perspektif Tasawuf Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah mengatakan, “Allah berfirman: Semua amal anak turun Adam (manusia) adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa, karena puasa adalah milik-Ku dan Aku akan membalasnya.

Baca Yang lain

Korelasi Agama dan Filsafat Menurut Filosof

Korelasi Agama dan Filsafat Menurut Filosof Abu Hayyan Tauhidi, dalam kitab al-Imta’ wa al-Muânasah, berkata, “Filsafat dan syariat senantiasa bersama, sebagaimana  syariat dan filsafat terus sejalan, sesuai, dan harmonis” Ahmad bin Sahl Balkhi yang dipanggil Abu Yazid, dilahirkan pada tahun 236 Hijriah di desa Syamistiyan. Ketika baligh ia berangkat ke Baghdad dan mendalami filsafat dan ilmu kalam (teologi).

Baca Yang lain

Filsafat Manusia; Melacak Peran Hakiki Manusia

Filsafat Manusia; Melacak Peran Hakiki Manusia Manusia adalah hewan yang berakal, begitu para filosof memaknai manusia. Dalam istilah logika, hewan adalah genus manusia yang juga dimiliki oleh hewan-hewan lain selain manusia, dan akal adalah diferensia manusia yang membedakan manusia dengan hewan-hewan lainnya. Oleh sebab itu, hewan dan akal adalah hakikat (substansi) manusia yang tidak akan terpisah dari manusia. Hal ini disebabkan sesuatu tidak akan pernah terpisah dari substansinya.

Baca Yang lain

Hijab Akal dan Peran Akal

Hijab Akal dan Peran Akal Dalam masalah keyakinan dan ideologi,  menerima suatu nilai benar atau salah (keberadaan dan ketiadaan) serta baik dan buruk (keharusan dan ketidakharusan) mestilah terlebih dahulu lewat pemikiran dan penganalisaan logikal serta argumen rasional. Al-Qur’an dalam hal ini senantiasa mengajak untuk berpikir, bertadabbur, dan menjauhi taqlid buta dalam berbagai masalah akidah dan keyakinan, serta memandang sangat buruk orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (Q.S : Yunus :100).

Baca Yang lain

Sekilas tentang Insan Kamil dalam Irfan

Sekilas tentang Insan Kamil dalam Irfan Pengenalan terhadap hakikat manusia sejak dahulu sudah menjadi pusat perhatian ulama dan para cendekiawan dari berbagai aliran dan mazhab pemikiran serta sudah melahirkan karya-karya yang bernilai tentang bab ini. Dalam pengenalan ini manusia ditinjau dari dua sudut pandang: deskriptif dan preskripsi. Dari sudut pandang awal yang menjadi aspek tinjauan adalah esensi dan hakikat, kekhususan dan sifat-sifat aktual manusia, dan dari sudut tinjauan kedua, manusia dilihat dari segi potensi dan insaniyahnya (manusia mesti menjadi apa), dengan kata lain manusia sempurna (Insan Kamil) itu siapa ia?

Baca Yang lain

Mengenal Epistemologi (2)

Mengenal Epistemologi (2) Pada saduran sebelumnya, secara singkat telah disinggung beberapa hal yang terkait dengan urgensi, definisi, pemicu, dan sejarah kajian epistemologi sejak zaman pra dan pasca Sokrates. Pada kesempatan ini[1], kita akan menyinggung perkembangan epistemologi setelah abad pencerahan

Baca Yang lain

Mengenal Epistemologi (1)

Mengenal Epistemologi (1) tujuan penulisan ini adalah memperluas, memetakan dan memperkenalkan wacana juga cakrawala Epistemologi yang berkembang dalam dialektika pemikiran filsafat, terkhusus Filsafat Islam. Harapannya, tulisan ini dapat memperluas cakrawala dan dialektika kelimuan di Indonesia dan menjadi bekal bagi para pegiat filsafat dan penempuh jalan kebijaksanaan.

Baca Yang lain