Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Filsafat & Irfan

Cinta dan Isyq dalam Tasawuf

Cinta dan Isyq dalam Tasawuf

Pandangan para sufi dan urafa terhadap hakikat dan definisi cinta tidaklah satu dan sama. Sebagian dari mereka mengatakan cinta tidak terdefinisikan dan tersifatkan. Mereka berkeyakinan bahwa bahasa dan ucapan tidak memiliki kapasitas dalam menjelaskan konsepsi dan makna cinta. Anshari Qasim menukil perkataan Ibnu Arabi, Siapa yang mendefinisikan isyq (cinta yang dalam), ia tidak mengetahuinya, dan siapa yang tidak mencicipi cawan cinta, ia tidak mengetahuinya, dan siapa yang mengatakan saya telah kenyang dari cawan minuman cinta, ia tidak mengetahuinya, sebab cinta tidak akan pernah menghilangkan dahaga seseorang (Anshari Qasim, Mabani Irfan wa Tasawuf, hal 90).

Baca Yang lain

Puasa Ramadhan Dalam Perspektif Tasawuf

Puasa Ramadhan Dalam Perspektif Tasawuf Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah mengatakan, “Allah berfirman: Semua amal anak turun Adam (manusia) adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa, karena puasa adalah milik-Ku dan Aku akan membalasnya.

Baca Yang lain

Korelasi Agama dan Filsafat Menurut Filosof

Korelasi Agama dan Filsafat Menurut Filosof Abu Hayyan Tauhidi, dalam kitab al-Imta’ wa al-Muânasah, berkata, “Filsafat dan syariat senantiasa bersama, sebagaimana  syariat dan filsafat terus sejalan, sesuai, dan harmonis” Ahmad bin Sahl Balkhi yang dipanggil Abu Yazid, dilahirkan pada tahun 236 Hijriah di desa Syamistiyan. Ketika baligh ia berangkat ke Baghdad dan mendalami filsafat dan ilmu kalam (teologi).

Baca Yang lain

Filsafat Manusia; Melacak Peran Hakiki Manusia

Filsafat Manusia; Melacak Peran Hakiki Manusia Manusia adalah hewan yang berakal, begitu para filosof memaknai manusia. Dalam istilah logika, hewan adalah genus manusia yang juga dimiliki oleh hewan-hewan lain selain manusia, dan akal adalah diferensia manusia yang membedakan manusia dengan hewan-hewan lainnya. Oleh sebab itu, hewan dan akal adalah hakikat (substansi) manusia yang tidak akan terpisah dari manusia. Hal ini disebabkan sesuatu tidak akan pernah terpisah dari substansinya.

Baca Yang lain

Hijab Akal dan Peran Akal

Hijab Akal dan Peran Akal Dalam masalah keyakinan dan ideologi,  menerima suatu nilai benar atau salah (keberadaan dan ketiadaan) serta baik dan buruk (keharusan dan ketidakharusan) mestilah terlebih dahulu lewat pemikiran dan penganalisaan logikal serta argumen rasional. Al-Qur’an dalam hal ini senantiasa mengajak untuk berpikir, bertadabbur, dan menjauhi taqlid buta dalam berbagai masalah akidah dan keyakinan, serta memandang sangat buruk orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (Q.S : Yunus :100).

Baca Yang lain

Sekilas tentang Insan Kamil dalam Irfan

Sekilas tentang Insan Kamil dalam Irfan Pengenalan terhadap hakikat manusia sejak dahulu sudah menjadi pusat perhatian ulama dan para cendekiawan dari berbagai aliran dan mazhab pemikiran serta sudah melahirkan karya-karya yang bernilai tentang bab ini. Dalam pengenalan ini manusia ditinjau dari dua sudut pandang: deskriptif dan preskripsi. Dari sudut pandang awal yang menjadi aspek tinjauan adalah esensi dan hakikat, kekhususan dan sifat-sifat aktual manusia, dan dari sudut tinjauan kedua, manusia dilihat dari segi potensi dan insaniyahnya (manusia mesti menjadi apa), dengan kata lain manusia sempurna (Insan Kamil) itu siapa ia?

Baca Yang lain

Mengenal Epistemologi (2)

Mengenal Epistemologi (2) Pada saduran sebelumnya, secara singkat telah disinggung beberapa hal yang terkait dengan urgensi, definisi, pemicu, dan sejarah kajian epistemologi sejak zaman pra dan pasca Sokrates. Pada kesempatan ini[1], kita akan menyinggung perkembangan epistemologi setelah abad pencerahan

Baca Yang lain

Mengenal Epistemologi (1)

Mengenal Epistemologi (1) tujuan penulisan ini adalah memperluas, memetakan dan memperkenalkan wacana juga cakrawala Epistemologi yang berkembang dalam dialektika pemikiran filsafat, terkhusus Filsafat Islam. Harapannya, tulisan ini dapat memperluas cakrawala dan dialektika kelimuan di Indonesia dan menjadi bekal bagi para pegiat filsafat dan penempuh jalan kebijaksanaan.

Baca Yang lain

Irfan Teoritik Ibn ‘Arabî dalam Pandangan Mullâ Shadrâ(2)

Irfan Teoritik Ibn ‘Arabî dalam Pandangan Mullâ Shadrâ(2) Setelah Ibn ‘Arabi, Mulla Shadra termasuk satu dari sekianfilsuf yang mengembangkan pemikiran ‘irfan dalam sorotan teosofi dan filsafat. Mulla Shadra akhirnya menelurkan beberapa prinsip filsafat yang cukup kaya melambari karya-karya filosofisnya. Bahkan di tangan Shadra, irfan, filsafat, dan kalam (teologi) terdapat titik pertemuan, yang demikian itu terbaca dalam sistem filsafat al-hikmah al-muta‘âliyah.  

Baca Yang lain

Irfan Teoritik Ibn ‘Arabî dalam Pandangan Mullâ Shadrâ(1)

Irfan Teoritik Ibn ‘Arabî dalam Pandangan Mullâ Shadrâ(1) Setelah Ibn ‘Arabi, Mulla Shadra termasuk satu dari sekianfilsuf yang mengembangkan pemikiran ‘irfan dalam sorotan teosofi dan filsafat. Mulla Shadra akhirnya menelurkan beberapa prinsip filsafat yang cukup kaya melambari karya-karya filosofisnya. Bahkan di tangan Shadra, irfan, filsafat, dan kalam (teologi) terdapat titik pertemuan, yang demikian itu terbaca dalam sistem filsafat al-hikmah al-muta‘âliyah.

Baca Yang lain

Teori Filsafat Suhrawardi ‘Cahaya dan Kegelapan’ dan Hubungannya dengan Ma’ad

Teori Filsafat Suhrawardi ‘Cahaya dan Kegelapan’ dan Hubungannya dengan Ma’ad Pertanyaan utama dalam gagasan ini ialah apa maksud tentang cahaya dalam pandangan Suhrawardi ? karena sebagaimana kita pahami bersama, pondasi dan fokus utama dalam kajian filsafat iluminasi Suhrawardi ialah mengenai cahaya. Suhrawardi terkadang menyebutnya dengan ‘ilmu al-anwar’ atau ‘fiqh al-anwar’. Suhrawardi memandang cahaya sebagai perkara yang badihi. Jelas dan tak butuh definisi. Menurut Suhrawardi, jika wujud tak butuh definisi dan penjelasan, dikarenakan wujud adalah sesuatu yang nampak, maka tak ada sesuatu yang lebih nampak dibanding dengan cahaya.

Baca Yang lain

Misykat Walayat dalam Irfan

Misykat Walayat dalam Irfan Urafa membagi pengetahuan irfan dan tasawuf atas dua bagian; irfan teoritis dan irfan amali. Bagian teoritisnya menjelaskan dan menafsirkan pandangan dunia irfan yang merupakan hasil dari syuhud dan mukasyafah kalbu para urafa, dan bagian praktis serta amalinya merupakan tuntunan dan riyadah dalam menjalankan sair suluk untuk mendapatkan kesucian dan kesempurnaan insani hingga mencapai akhlak Ilahiah dan menjadi manifestasi sempurna Asma Ilahi.

Baca Yang lain

keadilan menurut Aristoteles dan Filosof Muslim

keadilan menurut Aristoteles dan Filosof Muslim Aristoteles mendefinisikan kebahagiaan (sa’âdah) yang merupakan puncak kebaikan manusia sebagai “aktifitas jiwa dalam menyesuaikan dengan keutamaan.” Ia menilai puncak dari keutamaan ini adalah keadilan yang merealisasikan kebahagiaan umat manusia.

Baca Yang lain

Tafsiran Tauhid Filosofis dan Irfani dalam Surah Tauhid

Tafsiran Tauhid Filosofis dan Irfani dalam Surah Tauhid Dalam Surah Tauhid hakikat mutlak tersebut hanya diisyaratkan dengan «هو» , dan nama Allah, Ahad dan Shamad adalah ungkapan-ungkapan, alamat-alamat, dan kelaziman-kelaziman Hak Swt; sementara dzat, sebagaimana yang dijelaskan ahli kasyf dan urafa tidaklah memiliki nama.

Baca Yang lain

TUHAN DI DALAM DIRI KITA

TUHAN DI DALAM DIRI KITA “Dunia ini adalah aula Tuhan, di dalam aula Tuhan janganlah bermaksiat!”.

Baca Yang lain

Hudhuri dan Hushuli; Basis Kebenaran Filsafat Islam

Hudhuri dan Hushuli; Basis Kebenaran Filsafat Islam Konsekuensi logis yang bisa kita tarik dari pembahasan di atas, bahwa jika dalam ilmu hudhuri, sama sekali tidak terdapat perantara, baik dari sisi yang diketahui (ma’lum), begitu pula dari sisi yang mengetahui (alim), dan jika antara wujud yang mengetahui dengan wujud yang diketahui berhubungan secara langsung tanpa melalui perantara, maka dalam ilmu hudhuri tidak mungkin terdapat kesalahan.

Baca Yang lain

Mungkinnya Filsafat Syuhudi; Sebuah Pengantar

Mungkinnya Filsafat Syuhudi; Sebuah Pengantar ثم إن کان ما یلوحه ضرب من النظر مستوراً إلا على الراسخین فی الحکمه المتعالیه“ Khojah Nasiruddin Thusi dalam mengomentari pernyataan di atas mengatakan, “Yakni, masalah-masalah seperti ini adalah tersembunyi bagi para filsuf peripatetik yang tidak bersentuhan dengan hikmah muta’aliyah serta tidak memiliki pengetahuan syuhud”.

Baca Yang lain

Menghampiri Kebenaran dengan Akal

Menghampiri Kebenaran dengan Akal Sangat sering kita mendengar atau membaca di pelbagai media dan literatur (meliputi kitab suci serta buku-buku ilmiah) di mana manusia senantiasa disanjung dan dimuliakan bahkan melebihi para malaikat serta makhluk-makhluk lainnya, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh Dia yang menciptakannya. Pujian dan sanjungan atas keunggulan, kelayakan dan keutamaan makhluk bernama manusia ini bukanlah tanpa alasan(Kebetulan). Boleh jadi, alasan-alasan tersebut berupa data-data valid yang dapat dirangkai dan diramu menjadi serentetan proposisi-proposisi rasional tak terbantah, setidaknya mampu menenangkan, jika tidak dapat meyakinkan, setiap kepala yang masih berpikir.

Baca Yang lain

Keserasian Zikrullah dengan Hamasah (2)

Keserasian Zikrullah dengan Hamasah (2) Ungkapan seorang arif besar, Muhyiddin ibn Arabi, bahwa zikrullah lebih bernilai ketimbang berperang di jalan Allah,

Baca Yang lain

Ubudiyyah Kepada Allah SWT (2)

Ubudiyyah Kepada Allah SWT (2) Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpah kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al-Ma’arij : 19-21)  

Baca Yang lain