Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Filsafat & Irfan

Argumentasi Integrasi Keilmuan Islam (Ilmuisasi Islam)

Argumentasi Integrasi Keilmuan Islam (Ilmuisasi Islam)

Untuk itu, integrasi keilmuan, mesti berangkat dari suatu analisa atas struktur berpikir (epistemologi) dari setiap disiplin keilmuan. Maka di dalam rancang bangun filsafat Islam, asas epistemologisnya dalag rasional, yakni gugus konsepsi-konsepsi yang bersifat pasti (awwaliyyat-badihiyyat). Tanpa sandaran kepastian rasional maka seluruh teori pengetahuan tak akan pernah dapat diabsahkan karena tiadanya dasar yang absah. Termasuk dalam hal ini adalah agama dan spiritualitas. Agama dan spiritualitas dalam dinamika ini tidak diletakkan sebagai doktrin yang diterima kebenarannya secara subyektif, namun ia diletakkan sebagai premis-premis layak dikaji sesuai dengan bangunan epistemologi rasional.

Baca Yang lain

Filosofi Perbedaan Hukum Lelaki dan Perempuan (1)

Filosofi Perbedaan Hukum Lelaki dan Perempuan (1) Islam memiliki filosofi tersendiri terkait hak-hak lelaki dan perempuan. Islam tidak meyakini satu jenis hak, satu jenis kewajiban dan satu jenis hukuman bagi lelaki maupun perempuan dalam semua ihwal dan peristiwa. Islam memandang seperangkat hak dan kewajiban dan hukuman lebih pantas untuk lelaki dan seperangkat lain lebih pantas untuk perempuan. Karena itu, dalam beberapa hal, Islam mengambil sikap dan langkah yang sama terkait perempuan maupun lelaki, dan pada sebagian lainnya mengambil langkah dan sikap yang berbeda.

Baca Yang lain

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 2)

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 2) Dari pembahasan sebelumnya, kita telah mengenal bahwa jin mempunyai kekuatan untuk merasuki tubuh manusia dan jin dengan kekuatannya bisa memindah sesuatu yang berat dari tempat yang jauh dengan cepat. Seperti yang dilakukan oleh Ifrit di zaman kehidupan Nabi Sulaiman as.

Baca Yang lain

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 1)

Inilah Kekuatan Jin Yang Harus Kamu Ketahui (Part 1) Mampu masuk ke dalam sebuah badan manusia dengan mudah bahkan jin pun bisa dengan mudah untuk masuk kedalam sebuah pohon. Setelah masuk, mereka kadang akan mengganggu si pemilik tubuh. Atau bahkan jin pun mampu masuk ke bawah tanah yang mana bawah tanah merupakan tempat tinggal sebagian para jin.

Baca Yang lain

Inilah Nama Jin Yang Paling Pertama Diciptakan Allah Swt

Inilah Nama Jin Yang Paling Pertama Diciptakan Allah Swt Dari sini kita mengetahui bahwa hikmah dari penciptaan jin dan manusia adalah untuk menyembah Allah swt. Mari kita kembali ke pertanyaan sebelumnya. Siapakah jin pertama yang diciptakan oleh Allah swt. Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita merujuk hadits dari Sayidina Ali bin Abi Thalib kwj yang mana beliau adalah seorang pintu ilmu Nabi.

Baca Yang lain

Hakikat Segala Sesuatu: Bentuk dan Makna

Hakikat Segala Sesuatu: Bentuk dan Makna Akal memang mampu menangkap ilmu dan mengembangkannya. Tapi ia hanya berupa gambaran-gambaran, sementara sang makna harus disingkap dengan cara yang lain, yakni hati yang penuh cinta. Hati dan cinta menjadi alat epistemologis yang khas bagi kaum sufi. Karena pada mulanya adalah Tuhan yang Maha Cinta. Dan semua terjadi karena Cinta. Karena bagi Tuhan segala sesuatu terjadi di bawah kuasa dan izinNya sehingga tidak mungkin terjadi suatu hal yang dibenciNya sendiri. Sementara kebaikan dan keburukan sebagaimana berlaku dalam kategori etis yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia sendiri. Karena kebaikan manusia tak menambah apa-apa pada kekuasaan Tuhan yang secara hakikat sempurna, begitu pula keburukan manusia pun tak mengurangi apa-apa dari kekuasaanNya.

Baca Yang lain

Ruh, Hati dan Akal

Ruh, Hati dan Akal Manusia adalah makhluk bereksistensi. Ia ada sebagai bagian dari yang hadir di alam realitas. Sebagai bagian tersebut, ia ada secara bersamaan dengan entitas-entitas alam yang lain: langit, bumi, tumbuhan hewan dan sebagainya. Namun cara bereksistensi manusia amatlah khas. Pusat keunikan eksistensi manusia adalah kesadaran bahwa dirinya eksis. Karena kesadaran inilah yang menjadikan manusia tak sekedar menyadari dirinya yang eksis tapi lebih dari itu ia dapat bertanya ‘mengapa ia mesti eksis?’.

Baca Yang lain

Pandangan Ahli Tasawuf tentang Iman: Bertambah dan Berkurang

Pandangan Ahli Tasawuf tentang Iman: Bertambah dan Berkurang (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Baca Yang lain

Latar Belakang Kemunculan Pergulatan Integrasi Ilmu Dalam Epistemologi Islam

Latar Belakang Kemunculan Pergulatan Integrasi Ilmu Dalam Epistemologi Islam Dalam epistemologi terdapat beberapa aliran pengetahuan. Masing-masing aliran memiliki pemahaman tentang apa yang disebut sebagai pengetahuan. Ada yang menganggap pengetahuan adalah sesuatu yang dialami (kaum empiris). Ada yang menganggap pengetahuan adalah sesuatu yang ada di pikiran saja (kaum rasionalis). Kaum empiris cenderung objektif yakni melihat pada objek kasat matanya saja, sedangkan kaum rasionalis cenderung subjektif karena bersandar pada konsep yang ada pada pikirannya. Problem inilah yang sebenarnya harus diselesaikan terlebih dahulu, sebelum membicarakan integrasi keilmuan. Karena problem integrasi adalah problem epistemologis.

Baca Yang lain

Argumentasi Epistemologis Integrasi Ilmu (1) Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Argumentasi Epistemologis Integrasi Ilmu (1) Islamisasi Ilmu Pengetahuan Salah satu gagasan yang berusaha untuk mencari titik temu antara agama dengan ilmu pengetahuan adalah konsep islamisasi ilmu pengetahuan. Gagasan ini dipelopori oleh Ismail Raji al-Faruqi dan Naquib al-Attas. Meskipun keduanya memiliki semangat mempertemukan kembali antara agama dengan ilmu pengetahuan, namun keduanya memiliki penekanan yang berbeda didasari pada apa yang menjadi problem mendasar keterpisahan antara ilmu pengetahuan dan agama itu sendiri.

Baca Yang lain

Manusia dan Eksistensi Jiwanya

Manusia dan Eksistensi Jiwanya Namun logika ini tidak serta merta mereduksi eksistensi materi pada dirinya. Materi sebagai eksistensi pada realitas tetaplah eksis sekalipun tidak dikonsepsi, tapi makna materialitasnya hanya mungkin dimengerti secara konseptual (jiwa). Maka mengakui adanya yang disebut ‘materi’ telah dengan sendirinya meneguhkan eksistensi jiwa yang memaknainya sebagai materi. Sehingga menolak keberadaan jiwa dan hanya meyakini eksistensi materi dengan sendirinya menolak materi itu sendiri. Karena bagaimana pun suatu eksistensi pada dirinya hanyalah eksistensi, ia disebut materi lantaran kemampuan kita mempersepsinya dengan indra. Tanpa persepsi indrawi sesuatu hanyalah eksistensi dan belum dapat dimaknai sebagai materi.

Baca Yang lain

Pandangan Irfan: Terobosan Spiritual atas Filsafat Ketuhanan

Pandangan Irfan: Terobosan Spiritual atas Filsafat Ketuhanan Maka, untuk mengenal agama secara hakiki, seseorang mesti mensucikan jiwanya. Argumen logis-rasional adalah prakondisi yang memberi ruang kemungkinan pada nalar untuk menerima keberadaan Tuhan, namun penetapan realitas Tuhan sebagai wujud absolut hanya mungkin bagi jiwa yang tersucikan. Dengan begitu, kenabian merupakan guidance yang akan membimbing manusia untuk berjalan menuju kesusian jiwa dimana dengan kesucian tersebut, Tuhan akan menampakkan diriNya (dalam AsmaNya) yang akan membuat jiwa akan tunduk sepenuhnya (Islam).

Baca Yang lain

Argumen Tauhid Ibnu Sina

Argumen Tauhid Ibnu Sina Argumen adalah senjata para filsuf dalam menjustifikasi, dan menemukan teori-teori filsafat. Argumen ini berdasarkan kepada premis-premis yang bervariasi yang lahir dari berbagai wawasan keilmuan.  Dan berkat  argumen Ibnu Sina juga dapat menjustifkkasi seacara rasioanl dan logis, tidak hanya eksistensi Tuhan tapi juga ketunggalannya.  Argumen tauid ini pada gilirannya yang akan memperkuat keyakinan-keyakinan teologis.  

Baca Yang lain

Jalaluddin Rumi dan Irfan

Jalaluddin Rumi dan Irfan Rumi terbang tinggi di atas sayap spiritualitas dan pemikiran ruhaniahnya melampaui batasan ruang dan waktu. Pengaruhnya dapat disaksikan dalam pemikiran tokoh-tokoh besar sekelas Hegel. Oleh karena itulah, Rumi mampu melangkahkan kaki melampaui bahasa dan budaya tidak hanya sebagai seorang arif muslim, bahkan sebagai arif dan hakim yang tidak berafiliasi kepada cara tertentu.

Baca Yang lain

Paradigma Realisme dan Irrealisme dalam Filsafat Moral

Paradigma Realisme dan Irrealisme dalam Filsafat Moral Filsafat moral merupakan suatu diskursus yang cukup fudamental dalam kehidupan manusia. Karena filsafat moral hadir untuk melakukan evaluasi rasional baik berupa kritik maupun konstruksi terhadap pandangan-pandangan moral yang telah hidup dan berlangsung menjadi kesadaran manusia.

Baca Yang lain

Filsafat Moral: Kebutuhan Jiwa pada Moral

Filsafat Moral: Kebutuhan Jiwa pada Moral Sementara pada sisi batin, puncak dari kebaikan adalah makrifat, yaitu jiwa yang mengenal diri dan Tuhannya. Sehingga ajaran moral (akhlak), hukum (syariat) tiada lain untuk menghantarkan jiwa manusia untuk sampai kehadhiratNya, karena kembali padaNya adalah kebahagiaan tertinggi bagi jiwa.

Baca Yang lain

Filsafat untuk Anak dan Index of Happiness

Filsafat untuk Anak dan Index of Happiness Kegiatan mempraktikkan filsafat bisa dimulai dari rumah. Menjaga daya kritis anak sejak dini, mensuport segala keinginan tahu anak dan jiwa penasaran mereka adalah bagian dari pengenalan anak pada filsafat. Bahwa filsafat sangat berguna dan membantu kehidupan seseorang. Mengingat filsafat merupakan sebuah ilmu yang bisa menjadi dasar semua disiplin keilmuan.

Baca Yang lain

Perspekstif Gerak Substansial Tentang Sejarah Manusia

Perspekstif Gerak Substansial Tentang Sejarah Manusia Untuk itu, Islam menyasar individualitas manusia untuk selalu melalukan transformasi diri dengan proses intelektual (tafakkur, ta’aqqul, tadabbur) dan proses spiritual (tazkiyatun nafs) juga pada level sosial dengan dakwah, etika dan ketundukan pada hukum (dakwah ilal khoir, amr bil makruf dan nahyu ‘anil munkar).

Baca Yang lain

Spiritualisme dan Transformasi Diri

Spiritualisme dan Transformasi Diri Ke-aku-annya lenyap, yang hadir Aku yang baru, Aku yang sejati, Aku sebagai Aku, yang selain Aku adalah tiada. Dan Aku adalah Sang al Haqq.

Baca Yang lain

Manusia Dalam Dua Perspektif: Individu Dan Sosial

Manusia Dalam Dua Perspektif: Individu Dan Sosial Oleh sebab itu, lagi-lagi sebuah pandangan sosial selalu berakar pada basis pandangan dunia seseorang maupun kelompok dalam memandang eksistensi manusia sebagai individu dan perspektif mengenai tujuan akhir kehidupan manusia.

Baca Yang lain